Indeks

Kenapa Perempuan Cantik Selalu Digoda, Begini Sudut Pandang Agama dan Budaya

Comment6,232 views
  • Share

Jember, Kuasarakyat.com – Agama dan budaya mendudukan perempuan sebagai manusia yang memiliki peran setara dengan lelaki. Bahkan, agama memiliki keberpihakan terhadap pencegahan kekerasan pada perempuan melalui prinsip kesetaraan.

Selama ini teks dalil yang sering disampaikan tidak berkaitan dengan pencegahan kekerasan berbasis gender. Seperti memakai teks dalil hadist yang menekankan bahwa perempuan selalu berada di bawah posisi laki-laki.

Kemudian, perempuan harus menutup aurat sehingga tidak menggoda laki-laki. Perempuan menjadi korban karena tubuhnya sendiri. Dalam hal ini, justru perempuan yang disalahkan, bukan orang lain yang menggodanya.

Salah satu upaya pencegahan kekerasan berbasis gender itu adalah melalui metode mubadalah. Yakni menafsirkan teks untuk menemukan relasi dua pihak yang berprinsip pada kesetaraan.

Dalil hadist yang dijadikan dasar untuk melegitimasi dasar sterotip pada perempuan, diletakkan kembali pada visi rahmatan lil alamain dan akhlakul karimah dengan menyajikan teks yang lain.

Dr Faqihuddin Abdul Qodir, penulis buku perempuan bukan sumber fitnah menyampaikan pandangan tentang penghapusan kekerasan gender berdasarkan agama.

“Ada dua kata kunci utama, yakni fitnah dan aurat,” ucap dia dalam webinar Kekerasan Berbasis Gender dalam Perspektif Agama dan Budaya yang diselenggarakan oleh Rutgers Indonenesia pada Jumat (3/12/2021).

Menurut dia, dalam kajian keagamaan, perempuan sering disebut sebagai sumber fitnah atau memiliki potensi menggoda, mempesona hingga membuat stabilitas publik melenceng dan membuat hal buruk di mata agama.

Selain itu, kata kunci aurat digambarkan dengan kondisi tubuh perempuan yang bisa menjadi fitnah. Hal ini selalu menjadi alasan perempuan bisa menjadi korban kekerasan jika aurat terbuka.

“Akhirnya perempuan harus berada di rumah, dan harus bersabar dan berjihad dengan kondisi yang ada untuk peradaban Islam dan jaminannya surga ,”terang pria yang akrab disapa Kang Faqih itu.

Dia menambahkan kata kunci kedua adalah jihad dan surga. Empat kata ini sering diulang dalam kajian keagamaan yang selama ini terjadi.

Kang Faqih mengatakan semua persoalan ini berkaitan dengan cara pandang atau stereotip terhadap perempuan. Apakah perempuan dianggap manusia utuh yang memiliki akal, budi hingga peran sosial.

“Ada streotip di masyarakat bahwa perempuan cantik itu salah sehinga boleh digoda. Ketika digoda yang salah bukan penggodanya, tapi karena cantiknya,” terang diab. Begitu juga ketika perempuan jelek yang berdampak pada aksi bullyng.

Menurut dia, stereotip terhadap perempuan yang tidak setara dengan mendasarkan pada dalil agama bukan tafsir utuh. Mereka menganggap bukan manusia utuh yang memiliki akal, budi, kemampuan hingga keahlian.

Hal ini berbeda dengan konsep mubadalah dalam Islam yang menyempurnakan kehadiran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam dan perbaikan akhlak bagi laki-laki maupun perempuan.

Dalam teks alquran maupun hadist, perempuan juga dipanggil untuk membaca, belajar, bekerja hingga menjadi khalifah atau pemimpin untuk memakmurkan alam. Mulai dari dalam rumah hingga di luar rumah.

“Peran-peran besar ini akan hilang semua kalau perempuan hanya diartikan sebagai bagian dari laki-laki,” terang dia. Padahal perempuan juga bagian dari alam semesta, masyarakat dan lingkungan sosial seperti laki-laki.

Jika cara pandang mubalah ini dipakai oleh laki-laki maupun perempuan, maka tafsir yang tidak utuh tentang perempuan tidak akan dipakai. Justru memakai tafsir yang mengaitkan hadist dengan visi besar Islam rahmatan lil alamin dan akhlakul karimah.

“Bila hanya menganggap perempuan sebagai fitnah, maka itu tafsir diskrimantif,” ujar dia. Karena faktanya, yang mempesona perempuan tidak hanya perempuan, tapi juga laki-laki dan harta benda lainnya.

Dia menilai akar permasalahan bukan pada sumber agamanya. Tapi pada tafsir yang dimunculkan oleh masyarakat yang stereotip diskriminatif pada perempuan. “Oleh karena itu, penting memunculkan tafsir lain yang lebih komperehens yang terkait dengan visi islam, yakni semua orang memperoleh anugrah dari Islam,” jelas dia.

Dia menambahkan sebagai manusia yang punya tugas menyampaikan kebenaran dan kebaikan, tafsir kesetaraan ini harus disampaikan. Untuk itu, pesan-pesan keseteraan guna mencegah kekerasan berbasis gender ini harus terus disampaikan.

“Mari kita kembali pada visi utama ketika menyebarkan sesuatu, pertanyaannya apakah betul itu visi utama islam, yakni akhlakul karimah,” tutur dia.

Sementara itu Arimbi, aktivis dari Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS) Indonesia menambahkan perempuan memiliki peran besar dalam kemajuan. Terutama dalam bidang seni-budaya. Seperti kesenian ludruk maupun gandrung yang banyak dilakukan oleh perempuan.

“Seni bisa menjadi ruang ekspresi bagi perempuan,”tutur dia.

Hal senada juga disampaikan oleh Lusty Malau, aktivis perempuan dari Sumatra Utara mencontohkan ada adat istiadat atau budaya batak yang menjunjung tinggi peran perempuan. Yakni Dalihan Na Tolu. Artinya perempuan dan laki-laki memiliki tanggung jawab yang sama.

“Sebenarnya laki-laki dan perempuan dalam budaya jawa,batak atau Sulawesi harus sama-sama bekerjasama mengambil peran aktif dalam masyarakat,” ucap dia. Tidak ada pembatasan karena berdasarkan jenis kelamin. (bs)

Writer: Bs
Comment6,232 views
  • Share
Exit mobile version