JEMBER – Getolnya sejumlah ulama, tokoh politik, tokoh masyarakat, ormas serta sejumlah elemen masyarakat lainnya yang mengatas namakan Masyarakat Peduli Jember (MPJ), 1 Februari lalu mendatangi Mapolres Jember, untuk melakukan audiens dan pengaduan.
Dimana dalam pertemuan tersebut, MPJ yang anggotanya ada sejumlah ulama, seperti KH. Syadid Jauhari Kencong yang juga pengurus PBNU, KH. Hamid Hasbullah, ketua MUI Dr. KH. Abdul Haris M.Ag dan beberapa tokoh lainnya.
MPJ meminta kepada aparat kepolisian untuk memberantas peredaran miras di Jember, dan berharap Jember Zero Miras dan Narkoba.
Namun dampak dari getolnya sosialisasi memerangi peredaran miras, sejumlah tokoh dan ulama, mulai mendapatkan teror dari beberapa preman, yang tidak suka dengan gerakan ini.
Yek Imam yang juga ketua Rumah Aspirasi Jember (RAJE), kepada wartawan menyatakan, bahwa beberapa pihak ada yang tidak suka dengan gerakan MPJ, sehingga ujungnya salah satu pengasuh pesantren dan juga ustadz mendapat teror dari beberapa preman.
“Kemarin Kiyai Hamid (KH. Hamid Hasbullah) didatangi oleh sekitar 3 orang, mereka menyatakan keberatan dengan aksi kami, karena dinilai aksi yang dilakukan MPJ tebang pilih, dan dianggap sebagai persaingan bisnis, mereka meminta kalau mau nutup toko Miras, ya semua ditutup,” ujar Yek Imam Selasa (17/2/2025) menceritakan apa yang dialami oleh KH. Hamid Hasbullah.
Padahal menurut Yek Imam, tugas menutup penjual miras, adalah tugas aparat kepolisian dan juga Satpol PP, seperti yang disampaikan oleh Kapolres saat menggelar pertemuan dengan MPJ.
Hal yang sama juga dialami oleh ustadz Umar Sekjen LPAI Jember yang juga Sekretaris MPJ, dirinya mendapat telepon dari seseorang, yang meminta MPJ untuk tidak tebang pilih.
Bahkan dalam percakapannya, si penelpon secara tidak langsung sempat menebar teror kepada dirinya, dimana kalau penutupan dilakukan secara tebang pilih, si penelpon menyebut tentang biodata dirinya, mulai dari pekerjaan, keluarga dan juga alamat rumah.
“Memang ada seseorang yang menelpon saya, kalau MPJ tebang pilih dalam memerangi penjualan miras, mereka akan menjual miras selama bulan puasa, tidak hanya itu, penelpon juga menyatakan, akan mengerahkan 40 sampai 60 preman, bahkan penelpon juga membeber data saya, seperti tau pekerjaan saya, rumah dan juga keluarga saya, ,” ujar ustadz Umar.
Namun dirinya tidak merasa terancam, dirinya tetap bersama MPJ nya akan mendesak aparat penegak hukum untuk melakukan penertiban penjualan miras dengan memberikan tindakan tegas.
“Kami MPJ tetap berkomitmen, bahwa Jember harus Zero dari miras, dalam waktu dekat, kami juga akan menggelar hearing dengan DPRD dan berharap Bupati Jember yang baru, untuk memperketat perizinan penjualan miras, syukur-syukur ada Perda larangan,” pungkasnya. (Ma)
