Indeks

MERAWAT TRADISI, MELINDUNGI SANTRI: IKHTIAR PESANTREN RAMAH SANTRI DI ERA MODERN

Comment72 views
  • Share

Oleh : Suyono

Pemerhati Pendidikan Pesantren

 

Di tengah arus modernisasi pendidikan yang begitu kuat, pesantren saat ini menghadapi berbagai tantangan yang cukup berat. Di satu sisi, pesantren diharapkan untuk terus mempertahankan tradisi ilmu Islam yang telah ada selama bertahun-tahun. Namun, di sisi lain, mereka juga dituntut untuk menghadapi isu-isu kontemporer, mulai dari masalah moralitas di kalangan remaja, kekerasan di dunia pendidikan, bullying, hingga dampak dari dunia digital yang semakin kompleks. KPAI mencatat bahwa kasus kekerasan dan perundungan di satuan pendidikan masih menjadi persoalan serius secara nasional. Hingga 2024, pengaduan terkait kekerasan di lingkungan pendidikan terus meningkat, termasuk kasus bullying, kekerasan fisik, dan kekerasan psikologis yang melibatkan peserta didik di sekolah maupun pesantren. Dalam konteks ini, inisiatif “Pesantren Ramah Santri” menjadi tema yang sangat diperlukan untuk dibahas.

Kesadaran akan hal ini sangat dirasakan oleh Pondok Pesantren Nurul Abror Al-Robbaniyin di Banyuwangi. Pada hari Senin, tanggal 18 Mei 2026, pesantren ini menyelenggarakan Seminar Pesantren Ramah Santri, yang melibatkan pembicara dari Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Acara ini bukan hanya kegiatan seremonial, melainkan pengakuan penting bahwa pesantren perlu terus berubah menjadi tempat pendidikan yang aman, nyaman, manusiawi, dan tetap berlandaskan pada prinsip-prinsip Islam.

Inisiatif pesantren ramah santri sejatinya bukanlah usaha untuk mengubah prinsip pesantren menjadi lembaga yang terlalu bebas atau kehilangan ketegasannya dalam pendidikan. Sebaliknya, konsep ini bertujuan untuk mengembalikan inti pendidikan Islam yang selama ini menjadi kekuatan utama pesantren: kasih sayang, keteladanan, etika, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Dalam konteks Islam, pendidikan dibangun berdasarkan kasih sayang, bukan rasa takut. Rasulullah SAW sendiri mendidik para sahabat dengan cara yang lemah lembut, penuh kebijaksanaan, dan sangat menghargai psikologi manusia. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan yang menggunakan kekerasan verbal, intimidasi, atau bullying tidak memiliki dasar yang kuat dalam semangat pendidikan Islam.

Sayangnya, di era modern ini, berbagai masalah masih ada di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren, yang sering kali menganggap santri hanya sebagai objek disiplin. Padahal, santri adalah individu yang berkembang, memiliki aspek psikologis, emosional, dan kebutuhan sosial yang perlu dipahami dengan bijaksana. Saat pendidikan hanya dipenuhi dengan tekanan tanpa pendekatan kemanusiaan, hasilnya bukanlah karakter yang kuat, melainkan trauma yang terpendam.

Di sinilah pentingnya paradigma pesantren ramah santri. Konsep ini melihat santri tidak hanya sebagai pelajar, tetapi juga sebagai titipan yang perlu dipelihara, dibimbing, dan dilindungi. Pesantren harus berfungsi sebagai rumah kedua yang memberikan rasa aman baik secara fisik maupun psikologis.

Langkah Pondok Pesantren Nurul Abror Al-Robbaniyin Banyuwangi pantas diakui karena berani menciptakan forum untuk berdiskusi tentang perlindungan santri di tengah transformasi zaman. Seminar yang melibatkan narasumber dari Kementerian Agama Banyuwangi tersebut menunjukkan bahwa isu perlindungan santri saat ini sudah menjadi perhatian yang serius dari berbagai pihak. Hal ini penting karena pendidikan di pesantren tidak boleh berjalan sendiri tanpa dukungan dari negara, masyarakat, dan kesadaran kolektif dalam dunia pendidikan Islam.

Lebih jauh, konsep pesantren ramah santri memiliki hubungan yang kuat dengan prinsip moderasi beragama yang kini semakin digalakkan. Moderasi tidak hanya sekadar toleransi antarumat beragama, tetapi juga mencakup cara membangun budaya pendidikan yang adil, manusiawi, dan menghormati setiap individu. Pesantren yang ramah akan mencetak santri yang berprestasi baik secara spiritual, emosional, maupun sosial.

Di era digital, tantangan dalam pendidikan menjadi semakin kompleks. Santri tidak hanya dihadapkan pada masalah di dalam pesantren, tetapi juga pada pengaruh media sosial, krisis identitas, budaya instan, serta terpaan konten negatif. Oleh karena itu, metode pendidikan di pesantren perlu diperbarui. Ketegasan tetap diperlukan, tetapi harus diimbangi dengan dialog, dukungan psikologis, literasi digital, dan keteladanan nyata dari para pengasuh dan pengajar.

Pesantren di masa depan bukanlah lembaga yang menimbulkan ketakutan, melainkan yang selalu dirindukan. Suatu lingkungan di mana para santri merasa dihargai, didengar, dibimbing, dan dibentuk akhlaknya melalui pendekatan yang bijaksana. Pada dasarnya, keberhasilan dalam pendidikan Islam tidak semata-mata dinilai dari kemampuan menghafal atau disiplin yang ketat, tetapi juga diukur dari terlahirnya individu yang memiliki kedewasaan dalam akhlak dan kemanusiaan.

Pondok Pesantren Nurul Abror Al-Robbaniyin Banyuwangi telah mengambil langkah signifikan menuju arah itu. Konsep pesantren yang ramah bagi santri bukanlah sekadar slogan, tetapi usaha untuk mempertahankan kehormatan pesantren agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa mengabaikan akar tradisi yang ada. Tradisi tetap dipelihara, tetapi perlindungan terhadap santri juga menjadi prioritas.

Pada akhirnya, pesantren bukan semata-mata tempat untuk mempelajari agama. Pesantren merupakan wadah untuk membentuk manusia. Dan manusia yang baik tidak pernah muncul dari ketakutan, melainkan melalui pendidikan yang mengedepankan kasih sayang, teladan yang baik, dan penghormatan terhadap martabat orang lain.

Comment72 views
  • Share
Exit mobile version