Indeks

Bahan Ajar, Antara Profesionalisme Dan Kebutuhan

Comment1,499 views
  • Share

Di jaman yang semakin modern ini, dunia pendidikan dituntut untuk lebih berkualitas dalam menyelenggarakan pendidikan dan pengajarannya. Tidak terkecuali Perguruan Tinggi yang notabene mempunyai perbedaan yang esensial dengan dunia pendidikan lain dibawahnya. Untuk memebrikan pengajaran yang efektif dan efisien sebuah Perguruan Tinggi harus bisa menyesuaikan kualitas dosen, baik dari ilmu pengetahuan dan teknologi maupun keterampilan yang harus dimiliki. Kemampuan seorang dosen, baik dari sisi kognitif maupun praktis akan sangat menentukan arah dan kualitas pen didikan dan pengajaran dalam sebuah Perguruan Tinggi.

Secara logika, jika seorang dosen sudah mempunyai kualifikasi yang sesuai dengan kebutuhan Perguruan Tinggi tersebut, tentunya secara otomatis akan berdampak pula pada kualitas mahasiswa yang ada. Sehingga diharapkan bisa bersaing serta dapat beradaptasi dengan tuntutan jaman yang semakin maju dari semua sisi kehidupan, namun tetap memperhatikan nilai-nilai keislaman. Seyogyanya, seorang dosen sudah harus mempunyai persiapan yang cukup untuk mengimplementasikan dirinya sebagi seorang dosen. Dengan demikian, seorang dosen yang sudah cukup membuat persiapan keilmuan dan keterampilan merupakan “wujud”  seorang dosen yang dapat menghargai dirinya  sendiri dan mahasiswa.

Menghargai profesi sebagai dosen dan mahasiswa sebagai partner belajar merupakan hal yang penting dalam pendidikan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, merupakan suatu keniscayaan bagi dosen untuk terus update informasi berkaitan dengan relevansi dunia pendidikan dan bidang kajian keilmuannya. Melihat realitas ini, maka seharusnya seorang dosen mengajar dengan materi atau bahan ajar yang kekinian. Karena, ilmu pengetahuan itu terus berkembang dan teknologi semakin maju, persepsinya adalah sebisa mungkin seorang dosen itu terus berusaha untuk memperbaharui pengajarannya dengan menyusun bahan ajar dengan konsep perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.

Pengembangan bahan ajar pada satuan mata kuliah di Perguruan Tinggi, tidak bisa lepas  dari seluruh rangkaian kurikulum dari program studi. Karena, implikasinya adalah pada kompetensi dan pengguna lulusan sebagai out put dari sistem pendidikan dan pengajaran di Perguruan Tinggi. Bahan ajar yang dibuat oleh seorang dosen sangat menunjang terhadap proses pembelajaran dan itu memiliki “nilai” tersendiri. Pengembangan bahan ajar memiliki angka kredit sesuai bobot yang dihasilkan. Lebih dari itu, juga sebagai penunjang proses akreditasi program studi.

Mata kuliah yang layak dan baik, merupakan mata kuliah yang sudah dilengkapi dengan berbagai instrumen dalam bahan ajar yang dibuat oleh dosen yang bersangkutan. Komponen-komponen tersebut merupakan pijakan awal keberhasilan perkuliahan, sebagai bentuk pengembangan keilmuan, kurikulum dan pengajaran dalam sebuah Perguruan Tinggi.

Salah satu penilaian Angka Kredit  jabatan fungsional dan pangkat dosen serta ekuevalensi waktu mengajar seorang dosen di Perguruan Tinggi adalah menyusun bahan ajar sebagai referensi ukuran profesionalisme dosen di Perguruan Tinggi. Profesionalisme ini adalah memeberikan deskripsi tugas dan kewajiban serta hak dosen dalam melaksanakan tridharma Perguruan Tinggi.

Bahan “Ajar”

Pengembangan bahan ajar merupakan sebuah pengembangan inovatif dari materi-materi yang substansial dari pengajaran yang berupa buku, modul, makalah, jurnal dan audio visual maupun sejenisnya. Bahan ajar ini adalah suatu bahan atau materi yang disusun secara sistematis , yang digunakan dalam proses pendidikan atau pengajaran dalam satuan pendidikan. Bahan ajar juga merupakan seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran yang di desain secara terstruktur dan sistematis untuk mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi dan subkompetensi dengan segala bentuk kompleksitasnya (Widodo dan Jasmadi, dalam Lestari, 2013:1).

Bahan ajar itu unik dan spesifik. Unik artinya bahan ajar tersebut hanya bisa digunakan oleh kelompok tertentu dalam suatu proses pembelajan tertentu pula. Sedangkan spesifik, maksudnya adalah bahan ajar yang disusun dan disispakan hanya untuk kelompok tertentu dan dengan maksud untuk mencapai tujuan tertentu. Bahan ajar, berisi pedoman untuk dosen dan pedoman untuk mahasiswa menggunakan bahan ajar yang telah dikembangkan dari sisi keilmuan dan pengajarannya.

Banyak bergam bentuk bahan ajar yang digunakan dalam Perguruan Tinggi seperti yang telah disebutkan diatas, yang tujuan utamanya adalah untuk memberi kemudahan bagi mahasiswa dalam memahami bahan ajar yang disusun didalamnya. Sesuai dengan formulasi yang telah dilekuarkan oleh Dirjen Pendidkan, bahan ajar memeliki beberapa karakteristik, yaitu:

  1. Self Instructional, merupakan bahan ajar yang mampu membelajarkan diri sendiri dengan bahan ajar yang telah dikembangkan.
  2. Self Contained, adalah seluruh materi yang diajarkan terdapat dalam satu bahan ajar yang komprehensip.
  3. Stand Alone, yaitu bahan ajar yang dikembangkan tidak bergantung pada bahan ajar yang lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar lain.
  4. Adaptive, yakni bahan ajar hendaknya memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  5. User Frendly, ilah setiap paparan dan informasi harus bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk dalam merespon dan mengakses.

Untuk pengelempokan bahan ajar, para ahli berbeda pendapat di dalamnya. Ada yang membagi pengelempokan bahan ajar dari bentuknya, ada pula yang membagi bahan ajar dari jenisnya. Namun, dari berbagai perbedaan tersebut tidak mengurangi nilai dan esensi dari bahan ajar itu sendiri. Karena pada haikatnya, bahan ajar merupakan suatu materi pengajaran yang dimodifikasi dan di perbaharui sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Fungsi dari bahan ajar adalah sebagai Tools Of Evaluation. Yakni mengevaluasi pencapaian dari hasil pembelajaran. Berdasarkan dari strategi yang pembelajaran yang digunakan, fungsi bahan ajar mencakup tiga macam. Yaitu, fungsi bahan ajar dalam pembelajaran klasikal, fungsi bahan ajar dalam pembelajaran individual, dan fungsi bahan ajar dalam pembelajaran kelompok (prastowo, dalam Lestari 2011:25-26).

Bahan ajar sangat berperan penting dalam pembelajaran, dengan bahan ajar dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. Mengembangkan bahan ajar memerlukan keahlian tersendiri, bahan ajar biasanya disusun oleh tiga komponen utama. Yaitu, ahli materi, ahli instruksional dan ahli pengembangan media. Dosen yang memiliki keahlian tertentu, mempunyai kemampuan menulis yang baik dan mampu memahami karakteristik mahasiswa akan mudah untuk membuat bahan ajar dengan menulis sendiri. Ini merupakan model bahan ajar yang pertama.

Pengemasan kembali sebuah informasi, merupakan model bahan ajar yang kedua. Hal ini banyak dijumpai pada pengembangan bahan ajar, dengan mengumpulkan informasi yang sudah ada dan selanjutnya diolah untuk pemenuhan standar kompetensi mata kuliah. Selanjutnya, hampir sama dengan model yang kedua, namun bedanya model ini mengumpulkan materi langsung dari sumbernya. Yang kemudian disusun menjadi silabus mata kuliah dengan menambahkan kompetensi dan indicator serta panduan penggunaan bagi mahasiswa. Model ini biasa disebut dengan model kompilasi.

Buku teks, merupakan model bahan ajar yang terakhir. Bahan ajar ini, seringkali berisi materi cakupan satu bidang ilmu, sehingga perlu dikembangkan dengan menambah diagram keterkaitan antar topic dan materi yang perlu dipelajari untuk ketercapaian kompetensi. Juga perlu dibuatkan daftar bacaan tambahan sebagai bahan pengembangan dan koreksi keilmuan, baik dalam bentul verbal maupun non verbal.

Penutup

Disadari atau tidak, sebagian besar dosen telah mempunyai kemampuan mendeskripksikan dan mentransfer ilmu pengetahuan sesuai dengan bidang ilmu yang dikuasai. Dosen sudah mempunyai kemampuan menyampaikan materi kuliah secara oral sudah lama sekali bahkan sudah mendarah daging. Dan itu sudah menjadi style tersendiri selama kurun waktu yang lama, dan tanpa menafikan hal tersebut, bisa jadi model tersebut merupakan bahan ajar yang sangat krusial dan fenomenal. Sehingga dapat dimanfaatkan secara mandiri oleh dosen dan mahasiswa dalm mencapai sebuah kompetensi keilmuan dalam pendidikan dan pengajaran.

Jangan pernah khawatir jika ada perasaan bahwa belum mampu untuk berbuat lebih dalam menyusun bahan ajar, namun khawatirlah jika sudah tidak ada kesempatan untuk mengajar dan mengembangkan keilmuan yang dimiliki. Karena pada hakikatnya “ keilmuan” yang kita miliki merupakan modal besar profesionalisme sebagai dosen, yang bisa jadi akan menjadi bahan ajar yang sangat bisa dimanfaatkan dalam kondisi dan situasi sekarang ini.

 

Penulis:
Suyono, S.Sos.I,.M.Pd.I
Sekretaris Yayasan Nurul Abror Al-Robbaniyin
Dosen dan Pembantu Ketua III STAI Nurul Abror Al-Robbaniyin

Comment1,499 views
  • Share
Exit mobile version