Jember, kuasarakyat.com – FD (25) mahasiswi PG PAUD Universitas Argopuro (Unipar) Jember asal Kecamatan Wuluhan Jember, Selasa (11/4/2023) siang menjadi korban kekerasan dan dugaan pelecehan yang dilakukan oleh SMD, yang juga salah satu kepala sekolah di SD Kecamatan Balung, saat mengambil ijazah PG SD di kampus Unipar yang ada di jalan Jawa Sumbersari Jember.
Akibat dari perbuatannya, FD dengan diantar 8 teman se profesi yang juga saksi dilokasi kejadian, melaporkan kasus yang dialaminya ke Mapolres Jember.
“Kami melaporkan pak SMD ke Polres, karena telah melakukan tindak kekerasan dan pelecehan terhadap kami, kejadiannya tadi siang di kampus Unipar saat kami semua mau mengambil ijazah kami,” ujar FD.
HM yang juga teman FD, kepada wartawan menyatakan, aksi kekerasan dan dugaan pelecehan yang dilakukan oleh SMD, diduga pemicunya karena dirinya bersama dengan teman yang lain, termasuk FD, mendatangi kampus Unipar.
Dimana saat beberapa mahasiswi yang rata-rata merupakan guru sekolah PAUD ini datang ke kampus untuk menanyakan perihal ijazahnya yang sudah menjalani wisuda beberapa bulan yang lalu, namun sampai saat ini masih belum diterima.
“DI PG PAUD, ada ratusan mahasiswa yang kuliah, dan dibagi beberapa pokja, dan pak SMD merupakan koordinator Pokja wilayah Wuluhan Rambipuji, termasuk kami semua berada di pokja pak SMD,” ujar HM.
Sedangkan menurut HM, mahasiswa di beberapa pokja, yang satu angkatan wisuda dengannya, saat ini sudah menerima ijazah semua, sedangkan di pokja yang dikoordinir SMD, ijazah belum diterima lebih sari satu bulan.
“Saat kami tanya ke pak SMD, selalu dijawab, kalau ijazah belum jadi, padahal pokja yang lain sudah jadi semua, sehingga kami rombongan datang ke kampus untuk menanyakan ijazah kami, dan ternyata ijazah sudah selesai satu minggu setelah wisuda, sedangkan pak SMD selalu bilang kalau ijazah belum jadi, mungkin karena kami konfirmasi langsung ke kampus ini pak SMD marah dan mendorong teman kami, ironisnya saat mendorong juga memegang bagian dada teman kami,” ujar HM.
HM Menduga, SMD khawatir bobroknya terbongkar saat dirinya datang ke kampus untuk menanyakan ijazah. “Saya gak tahu, di pokja kami ada sekitar 75 mahasiswa, semua tidak berani bertanya, dan hanya kami ber sembilan yang nekat bertanya, dan nyatanya ijazah kami sudah selesai dan bisa kami ambil,” beber HM.
FD sendiri menyatakan, bahwa dirinya habis menjalani operasi kelahiran anaknya, saat mengambil ijazah di kampus Unipar, kondisi perut masih sakit, ditambah dengan perlakukan yang dilakukan oleh SMD terhada dirinya.
“Tadi pak SMD marah-marah ke kami, ketika kami tanya, masalahnya dimana pak? Ijazah sudah selesai kok dibilang belum selesai, padahal ijazah ini sangat penting bagi kami untuk mengurus NUPTK, tida-tiba saya didorong hingga saya terjungkal sambil memegang bagian dada saya,” ujar FD sambil menahan rasa sakit pada perut yang habis operasi.
FD pun tidak terima dengan perbuatan yang dilakukan oleh SMD, sehingga dirinya melaporkan apa yang dialaminya ke Mapolres Jember. “Tadi saat didalam kantor, pak SMD sempat menantang kami untuk lapor ke polisi, setelah saya iyakan, diluar orangnya minta maaf, tapi saya tetap tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan ke saya, karena ini bentuk pelecehan,” ujar FD. (Ma)
