Indeks

Memaknai Spirit Hari Santri dan Semangat Sumpah Pemuda Di Tahun Politik

Comment2,436 views
  • Share

Oleh : Moh Nur Fauzi

Dalam beberapa tahun terakhir terdapat dua perayaan Hari Besar Nasional yang diperingati oleh masyarakat Indonesia setiap bulannya, Hari Santri Nasional dan Hari Sumpah Pemuda. Hari Santri diperingati pada tanggal 22 Oktober, sementara Hari Sumpah Pemuda diperingati pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya. Adakah makna dan semangat titik temu dari kedua hari besar nasional tersebut?

Kaum santri merupakan salah satu elemen bangsa yang berkontribusi nyata dalam tegak dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Fakta dan bukti nyata terhampar dalam catatan sejarah perjuangan bangsa ini dalam mempertahankan eksistensi kemerdekaan.

Fenomena akbar “Resolusi Jihad” pada tanggal 22 Oktober 1945 merupakan salah satu kontribusi kaum santri dalam meneguhkan NKRI. Kaum santri bersama segenap elemen bangsa lainnya bersatu dalam semangat persatuan dalam keragaman untuk mengusir kolonialisme dari bumi Nusantara.

Peristiwa besar lain yang tidak kalah pentingnya adalah Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1945 yang diinisiasi oleh para pemuda Indonesia kala itu. Spirit yang melandasi lahirnya peristiwa tersebut adalah semangat persatuan dan nasionalisme. Para pemuda pada waktu itu bersepakat dalam tiga sumpah bersejarah yakni ber-tanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu, Indonesia.

Dari kedua peristiwa akbar dan bersejarah tersebut dapat ditarik benang merah semangat yang saling berkait kelindan satu sama lain.  Sebuah semangat yang saling memantik yang digagas oleh di antaranya adalah kaum muda generasi bangsa ini. Kaum santri  adalah generasi muda yang dipundaknya dititipkan masa depan cerah bangsa ini ke depannya.

Pesantren yang merupakan lembaga pendidikan keislaman pencetak ribuan bahkan jutaan kaum santri, dapat diibaratkan sebagai sebuah kapal besar Indonesia yang mampu menampung reragam komunitas dan identitas bangsa kita yang majemuk dan plural ini. Kemampuannya menampung dan menyatukan segenap elemen generasi muda bangsa merupakan berkah yang besar dan patut disyukuri.

Keragaman latar sosial kaum santri yang ada di pesantren merupakan modal sosial (social capital) bagi kokohnya rasa persatuan dan kesatuan di antara para santri. Kemampuan pesantren dalam mengelola keragaman inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam salah satu tulisannya (2007) menyebut pesantren sebagai “sub kultur” tersendiri bagi rumah besar Indonesia yang beragam.

Dalam konteks sosial kebangsaan, keragaman adalah basis penguat dan pemantik rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Keragaman bukanlah sumber perpecahan dan konflik di antara sesama anak bangsa. Semangat keragaman adalah semangat persatuan dalam upaya memajukan bangsa dan negara. Semangat inilah yang diangkat oleh Kementerian Olahraga dan Pemuda (Kemenpora) pada peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2023 ini. Adapun tema yang diangkat adalah “Bersama Majukan Indonesia”.

Tema “Bersama Majukan Indonesia” menyiratkan rasa persatuan dan kebersamaan segenap elemen bangsa untuk bergerak maju bersama membangun Indonesia. Kaum santri sebagai bagian dari elemen bangsa ini tentunya tidak tinggal diam untuk turut berkontribusi dalam memajukan negeri ini. Hal ini dibuktikan juga dengan tema yang diusung pada peringatan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober 2023 yakni “Jihad Santri Jayakan Negeri”.

Tema “Majukan Indonesia” dan “Jayakan Negeri” menyiratkan kesatuan makna dan tujuan dalam rangka membangun Indonesia secara bersama-sama dalam bingkai keragaman dan kebhinnekaan. Maju dan jayanya Indonesia menjadi tanggung jawab bersama seluruh generasi muda Indonesia, termasuk dalam hal ini adalah peran serta dan kontribusi kaum santri.

Dalam perspektif kaum santri memajukan Indonesia merupakan bagian dari jihad santri di era kekinian. Jihad santri jayakan negeri dapat diimplementasikan oleh kaum santri dengan aksi nyatanya melalui bentuk dukungan terhadap keutuhan NKRI dan Pancasila. Jihad kaum santri semacam ini dapat dikatakan sebagai bentuk jihad kontemporer yang harus selalu digelorakan dan digaungkan.

Dalam konteks Islam jihad semacam ini mendapat tempat secara eksplisit melalui perluasan makna dan tujuan syariat (maqasid              al-syari’ah). Seperti maklum diketahui tujuan syari’at terangkum ke dalam lima hal, yakni kebebasan beragama (hifz al-din), penjagaan terhadap eksistensi diri dan komunitas (hifz al-nafs), kebebasan berekspresi dalam ide dan gagasan (hifz al-‘aql), kebebasan bereksplorasi dalam kewirausahaan dan properti (hifz al-mal), dan penguatan institusi keluarga dan keturunan (hifz al-nasl).

Dalam konteks perluasan makna maqasid al-syari’ah tersebut para pemikir Islam kontemporer seperti Yusuf al-Qardhawi, Wahbah Zuhaili, Said Ramadlan al-Buthi, Taha Jabir ‘Ulwani, Ahmad Raysuni, Jasser Audah dan lain-lain menambahkan dua elemen penting lainnya, yakni penjagaan terhadap kehormatan dan integritas serta harga diri manusia (hifz al-irdl) dan menjaga keutuhan umat melalui penguatan rasa persatuan dan nasionalisme (hifz al-ummah).

Di tahun politik ini spirit titik temu Hari Santri Nasional dan Sumpah Pemuda seyogyanya menjadi renungan bersama untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan sebagai sesama anak bangsa yang memiliki keinginan dan tujuan untuk memajukan bersama Indonesia. Aroma dan nuansa dunia politik yang berkecenderungan membelah orientasi dan pilihan kita dalam bentuknya yang paling ekstrim dengan pro dan kontra harus diminimalisir.

Potensi keterpecahan dan keterbelahan masyarakat Indonesia akibat dari pilihan yang berbeda hendaklah diantisipasi dan dideteksi sedini mungkin sehingga tidak menyulut konflik horizontal di tengah-tengah masyarakat bawah. Kebebasan berekspresi melalui medsos di era disrupsi ini haruslah disertai dengan etika dan semangat bijak dalam bermedsos.

Semangat merawat persatuan demi keutuhan bangsa dan negara harus diutamakan di atas kepentingan pribadi dan golongan. Walhasil, semangat persatuan dan nasionalisme menjadi kata kunci (keywords) dalam peringatan dua hari besar nasional tersebut yang menjadi pemantik bagi generasi muda untuk bersama memajukan Indonesia.

 

Moh Nur Fauzi. Dosen Pengantar Studi Islam, IAI Darussalam Blokagung Banyuwangi dan Pegiat Literasi Darussalam

Comment2,436 views
  • Share
Exit mobile version