Oleh: Muhamad Najwan Alfasya, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Di tengah perkembangan zaman yang semakin canggih, pendidikan iman bagi anak-anak bukannya semakin mempermudah tetapi malah menghadapi tantangan yang rumit. Anak-anak kini tumbuh di lingkungan yang serba digital dan arus informasi yang sulit dibendung. Dalam situasi ini, pendidikan agama jika hanya mengajarkan hafalan doa, tata cara ibadah, atau pengetahuan tentang halal dan haram tidak cukup. Anak-anak perlu dibimbing dengan standar usianya agar mampu memahami nilai agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Nahdlatul Ulama (NU), melalui pesantren, madrasah, taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ), dan kegiatan keagamaan masyarakat, memiliki peran penting dalam proses tersebut. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa fondasi utama dalam mendidik anak adalah menjaga pergaulannya. Hindarkan anak dari bergaul dengan orang-orang yang suka bermaksiat, berkata kasar dan kotor, serta memiliki kebiasaan buruk (Ihya’ Ulumiddin, juz III halaman 69-71). Namun, tantangannya bukan sekadar mempertahankan tradisi mengaji, melainkan memastikan bahwa pendidikan agama benar-benar membentuk kepribadian anak. Iman harus tumbuh sebagai kesadaran, bukan sekadar rutinitas yang dilakukan karena doktrin orang dewasa.
Keteladanan sebagai Fondasi Pendidikan Iman
Strategi pertama yang perlu diperkuat adalah keteladanan. Anak-anak lebih mudah memahami nilai kejujuran ketika melihat orang dewasa berkata jujur daripada hanya mendengarkan nasihat tentang pentingnya kejujuran. Begitu pula dengan kesabaran, tanggung jawab, dan kepedulian yang harus ditunjukkan melalui perilaku nyata. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Ayat tersebut menegaskan pentingnya keteladanan dalam pendidikan. Dalam konteks pembentukan generasi di era digital, nilai-nilai keislaman tidak cukup disampaikan melalui ceramah atau konten di media sosial, tetapi juga perlu diwujudkan melalui perilaku orang tua, guru, dan tokoh agama. Ketika generasi muda menyaksikan keselarasan antara nasihat dan tindakan, nilai-nilai keimanan akan lebih mudah diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, pendidikan iman tidak dapat dibebankan hanya kepada guru mengaji atau lembaga pendidikan. Orang tua, guru, lingkungan dan tokoh agama perlu mencontohkan suri teladan yang baik dan konsisten. Akan sulit menanamkan akhlak kepada anak apabila nasihat yang diberikan kepadanya justru bertentangan dengan perilaku yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya.
Hal ini telah diterapkan dalam kalangan NU untuk meningkatkan iman terutama anak-anak seperti, TPQ, IPNU, Pondok Pesantren, pendampingan orang tua, serta kegiatan keagamaan yang memberi ruang bagi anak untuk belajar langsung melalui pengalaman dan praktik. Dengan demikian, agama tidak hanya dikenal melalui kata-kata, tetapi juga dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Membiasakan Ibadah, Menumbuhkan Kesadaran
Keimanan anak perlu ditumbuhkan melalui pembiasaan ibadah yang dilakukan secara konsisten sejak dini. Rasulullah saw. mengajarkan pentingnya membimbing anak untuk melaksanakan salat sejak usia tujuh tahun, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Abu Dawud nomor 495. Pesan ini dapat diterapkan dengan mengenalkan ibadah secara bertahap, disertai pendampingan dan pemahaman tentang maknanya. Di tengah perkembangan teknologi, orang tua dan pendidik perlu membangun kebiasaan beribadah tanpa mengabaikan penggunaan perangkat digital dalam kehidupan anak. Tujuannya bukan sekadar membuat anak terbiasa salat atau membaca Al-Qur’an, melainkan menumbuhkan kesadaran bahwa ibadah merupakan bagian dari tanggung jawab seorang muslim. Dengan demikian, agama tidak hanya dipahami sebagai kewajiban, tetapi juga menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Anak juga perlu memahami makna di balik ibadah yang dilakukan. Salat dapat dikenalkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah, sedekah sebagai latihan kepedulian, dan puasa sebagai pembelajaran tentang kesabaran. Penjelasan sederhana yang sesuai dengan usia anak akan membantu mereka menghubungkan ajaran agama dengan pengalaman nyata.
Dalam praktiknya, pembelajaran di TPQ dan madrasah diniyah dapat dikembangkan melalui cerita, permainan edukatif, praktik ibadah, dan kegiatan social seperti yang telah diterapkan dalam lingkungan Nahdlatul Ulama. Pendekatan yang menyenangkan bukan berarti mengurangi keseriusan pendidikan agama, melainkan membantu anak memahami ajaran Islam tanpa merasa terbebani. Tujuannya adalah menumbuhkan kebiasaan baik yang perlahan berkembang menjadi kesadaran pribadi.
Menghidupkan Nilai Aswaja dalam Kehidupan Anak
NU memiliki landasan keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah yang dapat menjadi pijakan dalam membentuk karakter anak. Nilai tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) perlu dikenalkan bukan hanya sebagai istilah, melainkan sebagai pedoman berperilaku.
Anak-anak dapat belajar toleransi dengan menghormati teman yang berbeda kebiasaan, belajar keadilan dengan tidak pilih kasih ketika bermain, serta belajar kepedulian melalui kegiatan berbagi. Dengan cara ini, nilai Aswaja tidak berhenti sebagai materi keagamaan, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Pendidikan iman yang demikian penting agar anak tidak memahami kesalehan sebatas hubungan dengan Allah. Kesalehan juga perlu tercermin dalam cara memperlakukan sesama. Anak yang rajin beribadah perlu terus dibimbing agar tumbuh menjadi pribadi yang jujur, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Menjawab Tantangan Era Digital
Tantangan pendidikan iman hari ini juga datang dari dunia digital. Anak-anak dapat memperoleh pengetahuan agama melalui internet, tetapi mereka juga berisiko menerima informasi yang tidak tepat atau penjelasan keagamaan yang tidak sesuai dengan tahap perkembangannya.
NU telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan, termasuk melalui penguatan literasi digital dan pelatihan pembuatan video pembelajaran bagi guru. Upaya ini dapat dikembangkan dengan menghadirkan media pembelajaran yang lebih menarik, seperti video edukatif, cerita digital, dan kuis interaktif untuk mengenalkan Al-Qur’an serta nilai-nilai akhlak kepada anak. Meski demikian, penggunaan teknologi tetap perlu diimbangi dengan pendampingan guru dan orang tua agar anak mampu memilah informasi dan memahami ajaran agama secara tepat.
Teknologi bukan berarti pengganti keteladanan dan interaksi langsung, tetapi hanya alat untuk memudahkan anak dalam pembelajaran. Anak tetap membutuhkan percakapan yang terbuka, perhatian orang tua, dan pendidik yang bersedia mendengarkan pertanyaan mereka agar ikatan emosional antara pendidik dan murid tetap terasa, hal ini yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Pendidikan iman harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Pendidikan iman tidak akan berjalan optimal jika keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat bergerak sendiri-sendiri. Apa yang diajarkan di TPQ perlu diperkuat di rumah, sedangkan lingkungan masyarakat harus menyediakan ruang yang mendukung pembentukan akhlak anak.
Dalam membentuk generasi beriman, NU mengandalkan kolaborasi lembaga pendidikan keagamaan, seperti TPQ, madrasah, dan pesantren, yang turut melibatkan keluarga serta lingkungan masyarakat dalam pendidikan anak. Upaya ini diwujudkan melalui pembelajaran Al-Qur’an, penanaman nilai-nilai akhlak, pembiasaan ibadah, dan kegiatan sosial yang mengajarkan kepedulian terhadap sesama. Melalui keterlibatan berbagai lingkungan tersebut, pendidikan iman lebih mudah untuk dipahami juga dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembentukan karakter anak menjadi tanggung jawab bersama antara pendidik, orang tua, dan masyarakat.
Pada akhirnya, meningkatkan kualitas iman anak merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keteladanan, konsistensi, dan pendampingan. NU memiliki modal sosial dan kelembagaan untuk mengambil peran tersebut, tetapi modal itu perlu terus dikembangkan agar pendidikan agama tidak hanya kuat dalam tradisi, melainkan juga relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.
Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan untuk mengenal ajaran Islam. Mereka perlu dibimbing agar mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam tindakan nyata. Sebab, keberhasilan pendidikan iman bukan semata-mata terlihat dari apa yang mampu dihafalkan anak, tetapi juga dari nilai kebaikan yang perlahan tumbuh dalam dirinya.
