NU Kiri
Oleh Moch Eksan
Dalam khazanah ilmu politik, kanan atau kiri untuk menunjukkan madzhab ideologi. Ada dua ideologi besar dunia, yaitu kapitalisme dan sosialisme. Kapitalisme adalah kanan dan sosialisme adalah kiri.
Kiri awalnya adalah istilah bagi anggota Majelis Nasional Prancis yang duduk berada di sayap kiri dari kursi presiden setelah revolusi Prancis 1789. Mereka adalah orang orang yang memperjuangan kesetaraan sosial, keadilan, kemerdekaan dan kesejahteraan sosial.
Namun kemudian berkembang menjadi siapa saja yang lahir atau terilhami oleh ideologi perlawanan dari sekelompok kaum bangsawan, tokoh agama, guru, pegawai, kaum buruh dan rakyat yang menggulingkan penguasa dan pengusaha yang menghisap keringat orang lain untuk sebesar-besarnya kemakmuran mereka.
Pasca revolusi Prancis, bermunculan partai komunis dan bahkan partai ini berhasil melahirkan negara komunis di berbagai belahan dunia. Sampai saat ini, Rusia, China, Korea Utara dan Vietnam masih dikaitkan dengan gerakan sosialisme global.
Meskipun negara komunis sudah banyak yang runtuh, yang tersisa hanya tinggal hitungan jari. Yang dominan dianut oleh dunia adalah nilai-nilai luhur dari ideologi sayap kiri. Yaitu ideologi perlawanan.
Sesungguhnya, NU Kiri juga bagian dari manifestasi ideologi perlawanan rakyat terhadap kekuasaan absolut semisal Raja Louis XVI yang hidup glamor di tengah penderitaan rakyat yang didera kemiskinan dan kelaparan. Rakyatlah dalam struktur masyarakat Prancis yang menjadi obyek pajak. Sementara, para tokoh agama dan bangsawan tak terkena wajib pajak tersebut.
NU Kiri juga bisa dibaca sebagai bagian dari gerakan Islam Kiri Hasan Hanafi Mesir yang bertujuan menjadikan agama sebagai teologi pembebasan dalam menghadapi penindasan, ketidakadilan dan kemiskinan, baik struktural maupun kultural.
Apalagi, NU sebagai organisasi keagamaan terbesar di Tanah Air, menjadi wadah kelas menengah kebawah yang menjadi kantong kemiskinan dan ketertinggalan. Sehingga, ideologi dan teologi NU Kiri sangat diperlukan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran warga NU.
Jujur harus diakui, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa per Maret 2026, jumlah rakyat miskin di Indonesia sebesar 22,93 juta atau setara dengan 8,07 persen. Mayoritas mereka adalah umat Islam, dan tentu juga warga NU. Disinilah tantangan NU abad ke-2, dengan berpartisipasi aktif melakukan pemberdayaan masyarakat.
Ketertinggalan budaya (culture lag) jamak dialami warga NU. Culture lag, menurut Williem F Ogburn, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tak berbanding lurus dengan perkembangan etika dan hukum. Nilai dan norma selalu tertinggal dibandingkan dengan infrastruktur fisik.
NU di masa Rois Akbar KH Hasyim Asy’ari dengan Ketua Umum KH Abdul Hakim Mahfudz dari segi infrastruktur fisik, jauh lebih maju NU masa kini dari pada masa lalu. Namun, dari segi etika dan hukum, NU masa lalu lebih baik dari NU masa kini. Ketertinggalan budaya ini merupakan tantangan terbesar dari cita Gus Kikin untuk membumikan Qanun Asasi NU.
Jadi, NU Kiri sebagai ideologi dan teologi perlawanan, telah membuktikan dalam sejarah G30S PKI menjadi kekuatan perlawanan yang menghadang penetrasi ideologi dan gerakan komunisme di Indonesia.
Setelah 3 hari peristiwa berdarah tersebut, NU yang pertama menuntut PKI dibubarkan, sebab telah melakukan bughat atau pemberontakan pada negara. Pembunuhan para jenderal revolusi tak terpisah dengan berbagai aksi kekerasan fisik terhadap para ulama dan rakyat dalam menjalankan land-reform.
Oleh karena itu, peran GP Ansor dan Banser sangat jelas keterlibatannya dalam pemberantasan PKI. Badan Otonom Kepemudaan NU ini berdiri di garda terdepan dalam menumpas kekuatan komunis di akar rumput. Sehingga, tragedi tersebut menjadi sejarah hitam kelam Indonesia Merdeka.
Pada 2012, Komnas HAM telah melakukan penyelidikan pro justisia terhadap tragedi kemanusiaan di atas dan memperkirakan korban tewas antara 500 ribu sampai 3 juta jiwa. Perkiraan ini lebih besar jumlahnya dari hasil penelitian Robert Cribb, Ben Anderson, Internasional Peoples Tribunal, yang menyebutkan antara 400 ribu sampai dengan 1 juta jiwa.
NU Kiri mengingatkan bahwa ideologi dan teologi perlawanan NU bukan hanya bermakna untuk membela rakyat kecil yang tertindas tetapi juga membela negara dari pemberontakan, baik yang dilakukan oleh kelompok kanan maupun kelompok kiri.
Almaghfurlah KH A Muchith Muzadi mendefinisikan NU Kiri yang konsisten di atas garis perjuangan dalam membela rakyat kecil yang tertindas. Dan tak ada kaitannya dengan ajaran Marxisme dan Leninisme.
Komunisme dalam pandangan KH Hasyim Asy’ari berbasis pada paham materialisme historis dan ateisme yang bertentangan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sejak 1947, sebenarnya Kiai Hasyim telah mengingatkan akan bahaya komunisme tersebut terhadap umat dan bangsa.
Penulis adalah Penulis Buku Kiai Kelana, Biografi Kiai Muchith Muzadi, LKiS Yogyakarta, 2000

