Jember, kuasarakyat.com – Silva Dwi Lestari SH, pendamping sekaligus kuasa hukum SL, korban asusila yang dilakukaj oleh IS (37) yang tidak lain ayah tiri korban, berupaya memberikan pendampingan, tidak hanya dalam proses hukum, tapi juga secara psikologis korban.
BACA JUGA : https://kuasarakyat.com/ibu-jadi-tkw-siswi-smp-di-jember-1-tahun-lebih-jadi-pelampiasan-nafsu-ayah-tiri/
Terlebih korban merupakan siswa kelas akhir di salah satu SMP yang ada di Jember, yang masih memiliki masa depan panjang, terutama dalam melanjutkan pendidikannya.
“Kami terus memberikan pendampingan kepada korban asusila, jangan sampai apa yang dialami oleh korban, berdampak pada hilangnya hak-hak korban, korban masih anak-anak, masa depannya masih panjang, jangan sampai peristiwa kelam yang dialami korban, menjadikan korban asusila patah semangat,” ujar Silva.
Dalam pendampingan terhadap korban ini, Silva bersama tim nya akan terus memberikan motivasi dan semangat, agar mental dan psikologis korban tidak rapuh, apalagi korban saat ini juga tidak mau sekolah, ditambah ada orang terdekat yang justru menyakahkan korban.
“Kondisi korban ini harus mendapat perhatian semua pihak, terlebih, ada orang terdekat yang seharusnya bisa melindungi, malah menyalahkan dirinya, beriuntung masih ada tante korban yang peduli dan mendampinginya,” jelasnya.
Pihaknya berjanji, akan terus mendampingi korban, terutama dalam memulihkan psikisnya, agar korban tidak patah semangat, dan bisa kembali meraih cita-citanya.
“Tadi saya tanya korban, katanya punya cita-cita ingin jadi dokter, tapi saat ini dirinya tidak mau sekolah, karena beberapa teman-temannya ada yang tahu dengan perisitwa yang dialaminya, sehingga korban merasa malu untuk sekolah,” paparnya.
Tidak hanya itu, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, korban juga belum bisa menentukan, akan melanjutkan sekolah dimana. “Karena kalau masih melanjutkan di sekolah lanjutan yang masih dalam satu kecamatan atau sekitarmya, korban masih enggan, dan masih trauma, korban ingin sekolah tapi syaratnya harus jauh dari tempat tinggalnya,” jelas Silva.
Pihaknya pun akan mengupayakan korban tetap mendapatkan hak-hak pendidikannya. “Kalau memang nanti mau, korban akan kami sekolahkan di lokasi yang jauh dari teman-teman SMP nya, hal ini semata-mata untuk menghilangkan trauma korban,” paparmya.
Silva berharap, Pemerintah bisa hadir dan memberikan intervensi terhadap kasus-kasus asusila yang menimpa anak-anak di Jember, karena bukan hanya SL yang mengalami kejadian kekerasan seksual, ada puluhan bahkan mungkin ratusan anak-anak di Jember yang bernasib serupa.
“Kami ingin, pemerintah hadir dan memberikan rumah aman untuk korban asusila seperti SL ini, karena saya yakin ada anak-anak selain SL yang juga menjadi korban serupa,” pungkasnya.(ma)
