Indeks

Tak Hanya Muatan Berlebih, KNKT Ungkap Sejumlah Fakta Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya

Comment627 views
  • Share

Banyuwangi, kuasarakyat.com – Hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap sejumlah fakta-fakta dalam tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya.

Tak hanya soal kelebihan muatan, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyebut, kendaraan yang dimuat di dalam kapal tidak diikat menggunakan lashing, yakni pengikat untuk menjaga stabilitas muatan.

“Dalam hal ini KMP Tunu Pratama Jaya jatuh tenggelam pada sisi kanan kapal akibat kendaraan di buritan bergeser dan bertumpuk ke sisi kanan,” terangnya saat memaparkan data hasil investigasinya dalam rapat bersama Komisi V DPR RI di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Selasa (22/07/25).

Selain itu, lanjut dia, kapal juga tidak memiliki storage plan atau perencanaan pemuatan kendaraan. Hal ini memperbesar risiko ketidakseimbangan saat kapal berlayar.
Tim KNKT juga mencatat beberapa kekurangan dari kapal sejenis. Salah satunya adalah pelampung (life jacket) yang sebagian berisi lose foam tipis. Sebagian lainnya memang menggunakan foam tebal, namun belum merata.

“Kemudian sebagian rakit penolong kembung atau Inflatable Life Raft (ILR) masih terikat nulon securing strap yang berpotensi menghalangi kapsul untuk mengembang pada kondisi darurat,” jelas Soerjanto.

Ada pula temuan bahwa pintu ruang mesin seringkali dibiarkan terbuka. Padahal, kata dia, seharusnya pintu tersebut selalu tertutup dan kedap.

“Seharusnya malah pintu kamar mesin harus tertutup dan kedap suara. Dan temuan kapal sejenis, kunci pintu hanya terdapat satu yang seharusnya ada enam,” ungkapnya.

KNKT juga menemukan ukuran freeing port dan freeboard pada kapal terlalu lebar, mencapai 1,2 meter. Kondisi ini bisa mempercepat masuknya air ke dalam kapal.
Yang paling mencolok, kata Soerjanto, banyak kapal di lintasan Ketapang-Gilimanuk masih beroperasi dengan rampa terbuka.

“Yang paling banyak kami temukan di Pelabuhan Ketapang adalah banyak kapal berlayar dengan rampa terbuka. Ini mungkin bisa dicari solusinya karena jika tertutup semua akan menghalangi pandangan nahkoda,” ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali pada Rabu (02/07/25) lalu, memuat barang jauh melebihi kapasitas seharusnya. KMP Tunu Pratama Jaya, memiliki kapasitas muat 138 ton. Saat tenggelam, kapal berisi muatan 538 ton. Hampir empat kali lipat dari kapasitas.

Berdasarkan manifes, kapal tersebut memuat total 22 kendaraan. Rinciannya 8 kendaraan golongan VII, 3 kendaraan golongan VIB, 3 kendaraan golongan VB, 3 kendaraan golongan IVB, 4 kendaraan golongan VIA, dan 1 kendaraan golongan II.

Penumpang dalam manifes tercatat sebanyak 53 orang dengan kru 12 orang. Namun, jumlah riil penumpang diduga lebih banyak dari yang tertulis di manifes.

Soerjanto menjelaskan, setiap kapal memiliki batas garis muat di badan lambung yang disebut “pisang-pisang”. Pada KMP Tunu Pratama Jaya, garis itu tenggelam, melebihi batas yang ditentukan.

“(Kelebihan muatan) Ini yang menyebabkan garis muat tadi tenggelam,” sambungnya. (CZ)

Comment627 views
  • Share
Exit mobile version