M. Wahyu Candra Aditama
Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang
250101110253@student.uin-malang.ac.id
PENDAHULUAN
Pembelajaran iman kepada anak itu tidak berhenti pada kesanggupan menghafal rukun
iman, doa, dalil atau kisah teladan. Pengetahuan tersebut penting tetapi anak perlu dibantu dalam
memahami bagaiman nilai itu hadir dalam kehidupan sehari hari. Dalam pembelajaran akidah
akhlaq disekolah SD/MI, tantangannya adalah bagaimana menghubungkan materi dengan pilihan
nyata yang dihadapi anak misalnya menghargai teman, menolong orang, mengakui kesalahan dan
berkata jujur (Kuswati, 2025).
Anak usia SD/MI sedang bekembang dalam aspek kognitif, bahasa, fisik, emosional.
Karena itu, konsep abstrak akan lebih mudah diterima apabila dikemas melalui contoh yang dekat
dengan pengalaman mereka. (Tiara Yuliarsih, Sedya Santosa, 2024) membahas karakteristik
perkembangan anak usia SD dan penerapannya bagi pembelajaran. Hal tersebut mengingatkan
kepada pendidik bahwa metode pengajaran yang diberikan harus menyesuaikan dengan tahap
perkembangan, bukan hanya fokus pada target materi yang disampaikan.
Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah mengkolaborasikan storytelling dan
roleplaying. Storytelling atau bercerita dapat membantu anak memahami nilai melalui peristiwa
maupun tokoh. Sedangkan role playing membantu untuk mencoba mengambil keputusan yang
relevan dengan kehidupan sehari hari (Parwanti, Junanah, 2023).
Iman perlu dipahami, diresapi, dan diterapkan.
Kualitas iman anak tidak dapat diukur dengan perilaku yang terlihat dan kemamapuan anak
mengetahui materi. Iman berkaitan pemahaman, penghayatan, dan penerapan perlaku yang semua
tidak bisa diukur secara langung. Meski demikian, pembelajaran membantu anak memahami nilai
yang bersumber dari ajaran islam. Dan melatih penerapan dalam kehidupan sehari hari.
Dalam konteks ini guru perlu menghindari bahwa anggapa satu metode role playing dapat
membuktikan tingkat keimanan seorang anak. Perilaku dipengaruhi banyaknya faktor, termasuk
lingkungan, teman, keluarga, pengalaman, dan contoh orang sekitar. Tujuan pembelajaran bukan memberi identitas kepada anak antara beriman atau tidak beriman berdasarkan satu tindakan.
Melainkan memberi bimbingan untuk memahami nilai dibalik tindakan dan membiasakan
berperilaku baik.
Metode Storytelling
Storytelling merupakan penyampaian gaagasan atau pesan melalui gambaran peristiwa.
Dalam pembelajaran guru dapat menggunakan kisah nabi, tokoh islam atau peristiwa sederhana
yang dekat dengan pengalaman siswa. Cerita tidak hanya menyebutkan satu tindakan benar salah
tetepi juga mengahadirkan tokoh, peristiwa, konflik dan akibat dari tindakan tersebut.
Misalnya, guru menceritakan anak yang menemukan buku di taman sekolah dan memilih
menyerahkan kepada guru. Setelah cerita selesai, guru bertanya kenapa buku itu harus
dikembalikan , bagaimana perasaan pemiliknya, dan apa yang sebaiknya dilakukan ketika tidak
ada orang yang melihat. Pertanyaan ini membantu siswa menghubungkan dengan kehidupan sehari
hari mereka sendiri.
Kelebihan storytelling adalah mampu menghidupkan kelas, memberikan konteks nilai
yang abstrak, san memberi kesempatan diskusi. (Kurniasari et al., 2026) membahas efektivitas
bercerita dalam mengembangkan karakter peduli sosial melalui tinjauan pustaka. Sementara itu,
(lupiati, ainur rofiq sofa, imam bukhori, abd. aziz, 2026) mengangkata storytelling sebagai strategi
pembelajaran pai untuk mengembangkan karakter religius siswa. Karya karya tersebut dapat
dijadikan acuan untuk menguasai potensi bercerita. Tetapi belum tentu setiap cerita menghasilkan
perubahan pada setiap anak.
Storytelling mempunyai keterbatasan : siswa bisa menikmati cerita tanpa mengetahui
pesan ketika guru berbicara sendiri. Cerita yang terlalu panjang dan rumit dapat membosankan
bagi siswa. Karena itu perlu memilih kisah yang sesuai, memberi ruang diskusi, dan refleksi.
Metode Role playing
Roleplaying adalah strategi pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk
memainkan peran dalam situasi tertentu. Siswa dapat menyampaikan pendapat, menghadapi
masalah, meminta maaf, menghargai teman dan menolong teman. Mereka bukan Cuma mendengar
nasihat tetapi juga mahami situasi untuk menyelasaikan masalah sesuai dengan tokoh.(afaf
wafiqah nusaibah, Wahyu Ramadan, Yazida Ichsan, M.Sahrul Qhodi Alam, 2021)
Dalam contoh tentang kejujuran, beberapa siswa dapat memainkan peran menemukan
buku, teman menyarankan agar diserahkan kepada guru, pemilik buku dan guru. Setelah adegan selesai mengajak kelas untuk membahas pilihan tokoh. Apa yang membuat tokoh utama ragu?
Bagaimana cara menolak ajakan dengan halus? Mengapa mengembalikan buku sebagai tindakan
yang tepat. Diskusi ini membuat kegiatan tidak berhenti pada adegan saja. Tetap, menuju ke
pemahaman nilai.
(Parwanti, Junanah, 2023) membahas metode role playing dan pengaruhnya dalam
meningkatkan akhlak di sekolah dasar. (afaf wafiqah nusaibah, Wahyu Ramadan, Yazida Ichsan,
M.Sahrul Qhodi Alam, 2021) juga membahas implementasi metode role playing dalam
pembelajaran akidah akhlak untuk membentuk akhlaqul karimah. Rujukan tersebut mendukung
relevansi menggunakan metode role playing dalam pembelajaran akidah akhlak. Namun guru tetap
perlu menilai hasil dari kegiatan untuk tujuan pembelajaran bukan hanya solusi tunggal.
Roleplaying juga mempunyai keterbatasan. Sebagian siswa malu untuk tampil, sementara
yang lain mungkin hanya fokus pada keseruan kegiatan daripada pesannya. Guru dapat
memberikan pilihan peran, waktu latihan atau kelompok kecil. Siswa yang tidak tampil bisa
menjadi pengamat, mengambil peran dibalik layar dan mencatat peran yang diambil.
Kolaborasi storytelling dan role playing
Storytelling dan role playing kedua strategi tersebut mempunyai fungsi yang saling
melengkapi. Storytelling menyediakan konteks mempermudah anak memahami, mengenal serta
menghayati moral. Sedangkan, role playing mengajak menerapkan nilai peristiwa. Setelah
menerapkan role playing, refleksi membantu siswa menjelaskan di balik pilihan mereka. Dengan
demikian, alur kegiatan bukan hanya mendengarkan lalu tampil, melainkan memahami masalah,
mempertimbangkan pilihan, praktik tindakan dan menerapkan pembelajaran.
Namun, penggabungan metode tidak otomatis lebih baik jika tidak terstruktur. Cerita harus
sesuai dengan pengalaman, dan kegiatan tidak hanya mengejar tampilan,. Guru perlu menentukan
tujuan, memilih cerita yang tepat, menyiapkan strategi, dan memberi waktu refleksi.
Guru juga harus waspada ketika menggabungkan perilaku iman. Misalnya, salam tema
kejujuran, guru dapat menjelaskan bahwa ajaran islam mendorong umatnya untuk berperilaku
jujur dan bahwa keyakinan kepada allah menjadi salah satu panduan untuk berbuat baik, termasuk
ketika tidak dilihat oleh orang lain. Namun, guru tidak perlu menyimpulkan bahwa anak yang
sekali berbohong tidak beriman, pendekatan yang baik mengedepankan bimbingan, evaluasi, dan
kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Enam langkah strategi penerapan Agar strategi kolaborasi berjalan terstruktur, guru dapat menerapkan enam strategi berikut
Pertama tentukan tujuan pembelajaran dan nilai yang ingin dibahas, misalnya kejujuran,
amanah, kepedulian dan tanggung jawab.
Kedua, pilih cerita yang sesuai dengan usia perkembangan anak dan pengalaman, ceritakan
secara sederhana, mempunyai persoalan yang jelas dan memberi ruang bagi siswa untuk
memeprtimbangkan pilihan tokoh.
Ketiga, sampaikan cerita secara menarik dan mudah dipahami. Guru dapat menggunakan
alat bantu untuk mendukung cerita, bukan sekedar hiasan.(lupiati, ainur rofiq sofa, imam bukhori,
abd. aziz, 2026)
Keempat, berikan ruang untuk siswa refleksi melalui pernyataan terbuka. Berikan
kesempatan siswa untuk menjawab pertanyaan tanpa memaksa semua anak.
Kelima, ubah kegiatan cerita dalam skenario role playing, bagikan peran secara adil dan
berikan waktu untuk latihan, pastikan semua siswa memilih peran dan berpartisipasi.(Parwanti,
Junanah, 2023)
Keenam, berikan ruang diskusi setelah permainan, tanyakan nilai apa yang diperoleh,
tindakan apa yang tepat,dan bagaimana siswa menerapkan di sekolah dan rumah.
Sebagai tindak lanjut, siswa dapat memilih tindakan sederhana untuk dibiasakan, seperti
mengembalikan barang temuan, saling memaafkan. Guru dan orang tua mendukung melalui
teladan sebagai umpan balik yang konsisten.
PENUTUP
Peningkatatan kualitas iman anak SD/MI merupakan proses yang memerlukan
pengetahuan, penghayatan, teladan dan penerapan. Storytelling dapat membantu anak mahami
nilai dari cerita, sedangkan roleplaying dapat membiasakan anak untuk menerapkan nilai dalam
kehidupan sehari hari. Kolaborasi ini berpotensi menjadikan pembealjran akidah akhlaq menjadi
aktif dan deakt dengan pengalaman siswa.
Namun, keberhasilan pembelajaran tidak ditentukan oleh kolaborasi metode saja.
Kesesuaian cerita, cara guru menyampaikan, lingkungan siswa, kenyamanan belajar siswa, serta
tindak lanjut dari keseharian siswa juga berpengaruh. Karena itu, kolaborasi metode dapat
dipahami sebagai pendampingan, bukan jalan untuk mengukur dan menjamin keberhasilan
pembelajaran serta peningkatan kualitas anak. Dari cerita anak belajar memahami nilai, melalui peran mereka berlatih menerapkannya dan lewat keteladanan dan lingkungan serta pembiasaan,
nilai tersebut dapat terus diperkuat dalam kehidupan sehari hari
DAFTAR PUSTAKA
afaf wafiqah nusaibah, Wahyu Ramadan, Yazida Ichsan, M.Sahrul Qhodi Alam, I. S. (2021).
Implementasi Metode Pembelajaran Role Playing dalam Mata Pelajaran Akidah Akhlak
untuk Membentuk Akhlakul Karimah Peserta Didik Era Milenial. Jurnal Pendidikan Agama
Islam, 4(2), 107–122.
Kusniasari, S., Kosasih, A., Hakam, K. A., Rakhmat, C., Umum, P., Pascasarjana, P., & Indonesia,
U. P. (2026). The Effectiveness of Storytelling in Developing Children’s Social Care
Character through Descriptive Literature Review. Jurnal Pendidikan Anak, 15(1), 34–42.
Kuswati, N. R. (2025). PENERAPAN METODE STORYTELLING UNTUK
MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA KELAS II DI SD NEGERI 1 SINGKOHOR
PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM. Jurnal Ilmiah Pendidikan
Guru Madrasah Ibtidaiyah, 5(1), 50–61.
lupiati, ainur rofiq sofa, imam bukhori, abd. aziz, muhammad hifdil islam. (2026).
STORYTELLING SEBAGAI STRATEGI INOVATIF DALAM PEMBELAJARAN PAI
UNTUK MENGEMBANGKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA MI DARUN NAJAH
TIRIS PROBOLINGGO. Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 10(2), 918–931.
https://doi.org/10.35931/am.v10i2.6444
Parwanti, Junanah, andi musthafa H. (2023). Metode Role playing dan Pengaruhnya dalam
Meningkatkan Akhlak Siswa SD Negeri Balecatur 2. Jurnal of Islamic Education, 3(1), 1–5.
https://doi.org/10.14421/hjie.2023.31-06
Tiara Yuliarsih, Sedya Santosa, D. M. (2024). KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN ANAK
USIA SEKOLAH DASAR, PADA FISIK-MOTORIK, KOGNITIF, BAHASA, DAN
IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 09(02), 328–346.










