PERAYAAN DAN ESENSI HARI SANTRI NASIONAL

Comment23 views
  • Share

*Oleh: Hairul Ulum – Tim penulis buku Menata Masa depan NU Jember

Esensi Hari Santri Nasional bukan sekadar perayaan seremonial pakai peci dan sarung. Bukan pula sekadar karnaval santri keliling desa. Ini adalah pengingat paling jujur dalam sejarah bangsa bahwa Indonesia ini merdeka bukan hanya oleh bambu runcing tentara, tapi juga oleh doa yang tidak pernah putus, darah yang tumpah di medan jihad, dan resolusi jihad para Kiai dan santri.

Jika kita lupa ini, kita akan menjadi bangsa yang amnesia sejarah.

*1. Latar Belakang Sejarah: Kenapa 22 Oktober?*

Tanggal 22 Oktober dipilih bukan karena kebetulan kalender, melainkan karena takdir sejarah.

Mari kita tarik mundur ke September – Oktober 1945. Indonesia baru 2 bulan merdeka. Belanda yang tidak terima kemerdekaan kita membonceng tentara Sekutu (Inggris) mendarat kembali di Surabaya. Mereka datang dengan senjata lengkap, ingin mengembalikan Hindia Belanda.

Di saat pemerintah pusat di Jakarta masih gamang, di Surabaya, para ulama berkumpul.

Pada tanggal 21-22 Oktober 1945, di kantor NU Bubutan Surabaya, atas inisiatif KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah, para kiai se-Jawa dan Madura bermusyawarah. Hasilnya adalah sebuah fatwa bersejarah yang kita kenal sebagai *Resolusi Jihad*.

Naskah aslinya sangat tegas dan tidak ada basa-basi:

> 1. Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus wajib dipertahankan.
> 2. Belanda yang kembali ingin menjajah adalah musuh yang wajib diperangi.
> 3. Hukumnya adalah *Fardhu ‘Ain* (wajib bagi setiap orang) bagi umat Islam yang berada dalam radius 94 kilometer dari Surabaya untuk berperang. Yang berada di luar radius wajib membantu saudaranya yang di dalam radius.
> 4. Barang siapa yang mati dalam peperangan ini adalah mati syahid.

Fatwa ini kemudian disebarkan oleh Bung Tomo melalui radio, oleh kiai-kiai melalui mimbar masjid dan langgar. Hasilnya meledak: ribuan santri dari pesantren Tebuireng, Tambakberas, Lirboyo, Sidogiri turun ke Surabaya hanya dengan sarung, sorban, dan bambu runcing.

Dari sinilah lahir pertempuran 10 November 1945 — pertempuran terdahsyat dalam sejarah revolusi. Tanpa Resolusi Jihad 22 Oktober, tidak akan pernah ada Hari Pahlawan 10 November.

Sayangnya, sejarah ini sempat hilang dari buku pelajaran selama puluhan tahun. Baru pada *15 Oktober 2015*, Presiden Joko Widodo menetapkan *Keppres No. 22 Tahun 2015* tentang Hari Santri Nasional. Ini adalah rekonsiliasi negara terhadap sejarah yang pernah dilupakan.

Bagi kami yang hidup di tengah kultur pesantren, tanggal ini sangat relevan karena kultur santri adalah akar kami.

*2. Esensi Utama Hari Santri: Lebih dari Sekadar Simbol*

Kalau diringkas, ada 4 esensi besar yang sering kita lupakan di balik perayaan:

*a. Esensi Religius: Jihad Hubbul Wathon Minal Iman*

Jihad versi santri bukan jihad yang menakut-nakuti. Bukan jihad membakar, memenggal, atau mengkafirkan. Jihad mereka adalah _Hubbul Wathon Minal Iman_ — Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman.

Sebuah hadits yang dihafal sejak di Madrasah Ibtidaiyah. Santri diajarkan bahwa menjaga sawah, menjaga warung, menjaga cafe agar tetap halal dan thoyyib, itu adalah bagian dari ibadah mempertahankan Indonesia. Nasionalisme mereka bukan nasionalisme sekuler, tapi nasionalisme yang berakar pada tauhid.

*b. Esensi Kebangsaan: Benteng Terakhir NKRI*

Sejak dulu pondok pesantren tidak pernah bikin negara di dalam negara. Sejarah mencatat: ketika DI/TII ingin mendirikan Negara Islam Indonesia dengan kekerasan, siapa yang melawannya? Ulama pesantren. Ketika PKI memberontak, siapa yang menjadi korban dan yang melawan? Santri.

Prinsip pesantren jelas: NKRI adalah bentuk final negara yang disepakati ulama. Fikihnya disebut _Darul Mitsaq_ — negara kesepakatan. Saat banyak kelompok transnasional ingin mengganti Pancasila dengan khilafah, santri berdiri di garda paling depan dengan kalimat: NKRI Harga Mati.

*c. Esensi Kultural: Penjaga Adab di Tengah Zaman Toxic*

Inilah esensi yang paling terasa di era sekarang. Di tengah modernisasi yang serba _toxic_, serba flexing, serba viral tanpa adab, santri menjaga 3 hal yang hampir punah:

1. *Tawadhu:* Rendah hati. Meski ilmunya tinggi, tetap menunduk.
2. *Ta’dzim:* Hormat pada guru, pada kyai, pada orang tua. Bukan budaya cancel yang mudah menghujat.
3. *Gotong Royong dan Kesederhanaan (Zuhud):* Hidup tidak berlebihan, saling membantu. Nilai yang membuat bangsa ini tidak tercerabut dari akarnya meski diterpa badai globalisasi.

*d. Esensi Intelektual: Islam Rahmatan Lil Alamin*

Pesantren mengajarkan Islam yang tidak kaku. Di pagi hari santri membaca kitab kuning _Fathul Qarib_ yang berumur 800 tahun, di siang hari belajar matematika, bahasa Inggris, dan cara membuat kopi di Cafe.

Inilah yang disebut KH. Hasyim Asy’ari sebagai Islam yang _wasathiyah_ — moderat, toleran, damai, dan masuk akal. Bukan Islam yang marah-marah di media sosial. Inilah yang kemudian disebut sebagai Islam Nusantara.

*3. Makna Untuk Hari Ini: Jihad Santri Zaman Now*

Dulu santri berjuang dengan bambu runcing. Sekarang bambu runcing itu sudah tumpul. Medan jihadnya sudah berganti total. Jika santri hanya nostalgia masa lalu, kita akan kalah.

*Pertama, Jihad Melawan Kebodohan dan Kemiskinan.*

Santri hari ini wajib melek teknologi, melek ekonomi, dan melek literasi. Apa yang kita lakukan diruang kegiatan kita masing-masing dalam menumbuhkan ijtihad hari ini adalah contoh jihad paling nyata di zaman ini — Jihad Ekonomi. Membuka lapangan kerja dari desa, membuat anak-anak muda tidak perlu merantau jauh ke kota, membuktikan bahwa dari desa, dari kultur santri, kita bisa menciptakan peradaban. Pesantren harus punya koperasi, punya cafe, punya digital marketing.

*Kedua, Jihad Melawan Hoaks dan Radikalisme Digital.*

Dulu penjajah datang dengan kapal perang. Sekarang penjajah datang lewat HP: lewat hoaks, adu domba, ujaran kebencian yang dibungkus ayat. Di era media sosial ini, santri harus menjadi penjernih. Menjadi _tabayyun_ center. Meluruskan ajaran yang menyimpang dengan cara santun, dengan ngaji, dengan ngopi, bukan dengan hujatan dan cacian.

*Ketiga, Jihad Menjaga Moral dan Masa Depan Bangsa.*

Ketika banyak anak muda kehilangan arah, terjebak judi online, narkoba, dan krisis identitas, santri hadir sebagai alternatif jalan. Menjadi contoh bahwa bisa tetap gaul, bisa punya cafe keren, bisa main TikTok, tapi tetap sholat tepat waktu, tetap ngaji, tetap memakai sarung dengan bangga.

Itulah kenapa tema Hari Santri tiap tahun selalu menggetarkan: “Jihad Santri Jayakan Negeri” dan “Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan”. Artinya jelas: santri tidak boleh hanya jadi penonton pembangunan, apalagi hanya jadi objek politik tiap 5 tahun sekali. Santri harus jadi pemain utama.

*Penutup: Dari Pena Untuk Negeri*

Singkatnya:

_Kalau Hari Kemerdekaan 17 Agustus adalah hari lahirnya Indonesia, maka Hari Santri 22 Oktober adalah hari pengingat siapa yang rela mati-matian agar Indonesia tetap hidup dan tetap ada sampai hari ini.

*Hidup Santri! Hidup NKRI!

Comment23 views
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.