QURBAN: KEKERASAN, SAKRALITAS, DAN RESOLUSI KONFLIK

Comment1,327 views
  • Share

Hari Raya Idul Adha adalah salah satu perayaan Islam yang memiliki religiusitas dengan kesan tersendiri dibanding dengan hari besar Islam lainnya. Jika dalam Hara Raya Idul Fitri umat Islam banyak melakukan silaturrahim atau acara halal bihalal, maka dalam Hari Raya Idul Adha umat Islam sebagian kecil melaksanakan ibadah haji dan sebagian besar lainnya tengah berpesta mendapatkan daging gratis. Umat Islam yang mampu dianjurkan untuk mengorbankan binatang ternak baik domba/kambing, sapi/kerbau, maupun unta untuk dibagikan dagingnya kepada orang lain.

 

Kisah-Kisah Pengorbanan dalam Kitab Suci

Anjuran Qurban dengan mengorbankan binatang ternak dalam Islam merujuk pada peristiwa ujian kesetiaan Nabi Ibrahim untuk menyembelih purtanya yaitu Nabi Ismail (Ishak menurut sumber lainnya). Singkat cerita setelah beberap kali pisau yang digunakan tidak mampu melukai leher Nabi Ismail, datanglah Malaikat Jibril membawa domba dari Surga untuk dikorbankan sebagai pengganti Nabi Ismail. Penyembelihan domba juga dapat ditelusuri melalui kisah persaingan Qabil (Kain) dan Habil. Cerita ini bermula dari kecemburuan Qabil terhadap calon pasangan Habel yang tidak lain adalah sudara kembarnya. Aturan pernikahan pada saat itu Qabil yang lahir dengan saudara kembar Iqlima harus menikah dengan Labuda yang lahir sebagai saudara kembar Habil dan begitu sebaliknya. Nabi Adam kemudian memerintahkan keduanya untuk mengorbankan apapun yang mereka miliki. Qabil berkorban dengan hasil pertaniannya, sementara Habil berkorban dengan domba sebagai hasil peternakannya. Tuhan akhirnya hanya menerima domba yang dikorbankan Habel daripada produk pertanian yang dikorbankan Qabil.

Rene Girard seorang sejarawan, kritikus sastra, dan filsuf ilmu sosial Perancis lewat karyanya Sacred and The Violence menjelaskan bahwa kisah-kisah pengoraban dalam Kitab Suci menunjukkan bahwa agama merupakan bagian sifat alami manusia. Kisah-kisah tersebut menunjukkan hubungan yang tidak terpisahkan antara kekerasan dan yang sakral. Girard juga merujuk pada kisah Oedipus Complex Sigmund Freud dalam agama primitif, dimana seorang anak laki-laki ingin seperti ayahnya: memiliki apa yang dimiliki ayahnya, ingin menikahi istri ayahnya atau ibunya sendiri, hingga ingin membunuh (kekerasan) ayahnya karena dianggap saingannya. Cerita ini berujung dengan sebuah resolusi konflik dengan terbentuknya “taboo” (ayah yang disakralkan) dan terbentuknya aturan eksogami dalam pernikahan.

Sumber utama lahirnya kekerasan bagi Girard sepenuhnya material, yakni adanya kekerasan yang ditimbulkan oleh persaingan mimetik: persaingan akibat meniru model/mediator yang menjadi saingan atau saingan yang menjadi model dalam memperebutkan obyek eksklusif (obyek yang sulit dibagi dan dimiliki bersama). Kisah persaingan Qabil versus Habil bagi Girard adalah persaingan antara Qabil sebagai peniru dan Habil sebagai model dalam memperebutkan Iqlima sebagai obyek eksklusif. Kisah Oedipus Complex juga dibaca Girard sebagai persaingan antara anak sebagai peniru dan ayahnya sebagai model dalam memperebutkan perempuan yang tidak lain adalah ibu kandungnya atau istri ayahnya. Dari peristiwa itu lahirlah pengorbanan sebagai pengalihan kekerasan seperti mengorbankan domba dan sakralitas sebagai resolusi konflik berupa aturan pernikahan dan penghormatan kepada orang tua. Girard beranggapan bahwa kekerasan tidak dapat ditolak, tetapi dapat dialihkan ke objek lain yang ia namakan “kambing hitam”, sebuah istilah yang merujuk pada upacara Yom Kippur pada agama Yahudi yang menggunakan kambing hitam sebagai korbannya. Istilah “kambing hitam” dipilih sebagai konsep yang dapat menjelaskan kisah-kisah pengorbanan dalam semua agama.

Universalisasi konsep kambing hitam sebagai akar sakralitas yang mendasari terbentuknya semua agama nampak terlalu sederhana. Latar setiap kisah pengorbanan dalam beberapa agama berbeda-beda dan tingkat urgensinya juga berbeda, tidak seperti Oedipus Complex yang dinilai sebagai dasar terbentuknya agama primitif. Agama Islam misalnya, tentu sulit diterima bila disederhanakan lahir karena peristiwa persaingan Qobil dan Habil, bagitu juga agama semit lainnya yang terlebih dahulu sudah mengafirmasi adanya kisah tersebut. Kisah pengorbanan Yesus dengan mati di Kayu Salib mungkin juga kurang tepat jika disebut peristiwa kambing hitam dan menghilangkan nilai spiritulitas berupa penebusan dosa. Konsep kambing hitam juga tidak bisa menjelaskan domba pengganti Nabi Ismail yang dikorbankan sebagai ujian ketaatan seorang utusan kepada Tuhannya, bukan persaingan memitik. Masih banyak kisah-kisah pengorbanan seperti jalan zuhud, mati syahid, pengorbanan harta benda berupa zakat, infaq, shadaqah dan lain lain, tidak dapat dijelaskan sekedar kambing hitam.

 

Qurban sebagai Resolusi Konflik

Pandangan Girard tentang fungsi sakralitas sebagai resolusi konflik dalam agama, layak dipertimbangkan relevansinya, meski sulit diamini sebagai dasar terbentunya agama. Setidak-tidaknya dapat dipertimbangkan sebagai salah satu fungsi, meski tidak semua sakralitas dapat dimaknai sebagai resolusi konflik. Girard memandang agama dengan doktrin sakralitas dan semua aturan tentang baik-buruk dan halal-haram sebagai turunannya, memiliki fungsi sebagai pengalih atau pengelola kekerasan. Kekerasan memang tidak dapat ditolak, oleh karenanya agama hadir untuk mengelola dan mengalihkannya ke jalan yang benar.

Girard berusaha mengembalikan peran publik agama yang telah diprivatisasi di era modern. Agama dengan doktrin sakralitasnya dan seperangkat aturan tentang baik dan buruk memiliki peran penting dalam mengatasi berbagai konflik. Girard jelas berbeda dengan Karl Marx yang memandang agama sebagai candu. Konflik dan kekerasan dalam memperebutkan obyek eksklusif berupa harta, tahta, atau wanita telah diatur dengan baik dalam agama. Islam salah satu agama yang memiliki resolusi konflik atas ketiga obyek eksklusif tersebut seperti konsep zakat, khilafah dan imamah, serta hukum pernikahan.

Ritual qurban pada Hari Raya Idul Adha dengan menyembelih binatang ternak seperti domba dan sapi dan membagikannya kepada sesama juga dapat dimaknai sebagai resolusi konflik. Ritual qurban menjadikan para model baik dari kalangan selebriti, pejabat negara, bahkan tokoh agama yang semula tampil dengan pakaian, perhiasan, dan kendaraan mewah, kemudian beralih menjadi model yang sederhana dan peduli terhadap orang lain dengan berbagi daging qurban. Hal ini tentu dapat mengurangi potensi konflik, kekerasan, dan kriminalitas para peniru yang berusaha menjadi model dalam mengakomulasi harta kekayaan dan beralih menjadi peniru dalam kebaikan. Islam mendorong pemeluknya untuk berkorban dan persaingan atau perlombaan di bidang ini jelas tidak hanya dibenarkan tetapi juga dianjurkan. Penyembelihan qurban menjadi salah satu contoh bagaimana fungsi agama sebagai institusi pengelola konflik bekerja.

 

Oleh : Nurul Huda

Dosen Filsafat Universitas Nurul Jadid

Comment1,327 views
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.