Oleh: Fatah Yasin Romli
Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga serta hubungan seksual (puasa lahir).Tapi, pengendalian hawa nafsu dari berbagai dorongan untuk mengurangi mamfaat dan pahalanya berpuasa (puasa batin).
Jadi puasa lahir batin adalah sarana transformasi jiwa menuju kesempurnaan spiritual menuju hamba muttaqin serta jalan menuju kedekatan dengan Allah
Puasa juga mengajarkan makna jihad sejati, yakni perang besar melawan hawa nafsu. Sebagaimana lintasan peristiwa penting terjadi di bulan Ramadlan pada masa Nabi, yakni Perang Badar prestasi kemenangan gemilang ummat islam menghadapi kaum quraisy yang jumlah pasukannya lebih besar. Kemenangan gemilang itu dalam pandangan Nabi belumlah dikatakan perang besar. “Tahukah kalian jihad atau perang besar itu? Perang melawan hawa nafsu.
Puasa sebagai penempaan ijtihad keilmuan, dan jihad besar mensucikan hati dengan memerangi hawa nafsu dari segala keinginan yang menjatuhkan harkat kemanusiaannya. Dengan puasa, madrasah utama penggemblengan iman untuk menjadi hamba muttaqin. Serta hamba yang memiliki kepekaan sosial, yang turut merasakan moment pembejaran saudara yang kesulitan menyambung kebutuhan ekonominya. Lahirnya solidaritas kemanusiaan secara universal.
Selain itu puasa
menyucikan hati dari segala sifat tercela seperti iri hati, sombong, dan dengki.
Dengan penyucian dosa-dosa batin, manusia mendekatkan dirinya kepada maqam ikhlas, di mana segala amal perbuatannya murni karena Allah.
Puasa sebagai Sarana Ma’rifatullah, sarana mengenal Allah lebih dekat dengan sifat_sifat_Nya. Seperti “Ketika engkau berpuasa, Allah sedang mengawasi setiap tarikan nafasmu. Jika engkau menghadirkan-Nya dalam setiap detik puasamu, maka engkau akan merasakan kelezatan yang tak ada bandingannya.” Puasa membuka pintu-pintu ma’rifat, di mana manusia tidak hanya mengenal Allah secara intelektual, tetapi merasakan kehadiran-Nya dalam hati.
Puncak puasa adalah tawakkal, yakni melatih manusia untuk berserah diri kepada Allah. Ketika tubuh lemah karena lapar, manusia belajar bahwa kekuatan sejati hanya datang dari Allah.
Ala kulli hal, puasa adalah latihan penyerahan diri. Semakin lemah jasadmu, semakin kuat ruhmu bergantung pada Allah.”
Dengan berserah diri, jiwa manusia akan merasakan ketenangan batin dan kebebasan dari belenggu duniawi.
_______
Penulis, adalah santri pengajian ahad kitab Risalatul Muawanah Sukorejo Situbondo
