Banyuwangi, Kuasarakyat.com – Kebakaran melanda tumpukan limbah sekam di pabrik penggilingan beras PT UD Mulya Agung, Desa Benelan Kidul, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Jumat (03/04/26) pagi. Fenomena cuaca panas ekstrem diduga kuat menjadi pemicu munculnya titik api di dalam gunungan limbah tersebut.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Banyuwangi, Edy Supriyono, menjelaskan bahwa insiden ini bermula dari akumulasi panas yang terjebak di dalam tumpukan sekam seluas 8×9 meter.
“Berdasarkan hasil asesmen tim di lapangan, kebakaran ini dipicu oleh cuaca panas yang sangat terik belakangan ini. Ditambah lagi dengan kurangnya sirkulasi udara di area penyimpanan limbah, sehingga terjadi penumpukan panas berlebih yang memicu timbulnya api di bagian dalam tumpukan sekam,” ungkap Edy Supriyono, Jumat (03/04/26).
Edy menambahkan, kondisi ini dalam dunia penyelamatan dikenal dengan terpenuhinya unsur pembentukan api yang spontan akibat faktor lingkungan.
“Kejadian ini terjadi karena terpenuhinya unsur ‘Segitiga Api’. Ada bahan bakar berupa sekam kering, suhu panas yang ekstrem dari cuaca, serta oksigen yang cukup. Ketika ketiga komponen ini bertemu dalam ruang yang minim sirkulasi, api akan menyala dengan sendirinya dari dalam,” jelasnya lebih lanjut.
Laporan kebakaran diterima petugas sekira pukul 06.49 WIB. Sebanyak tiga unit armada pemadam dari Sektor Srono dan Regu Brama 2 langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan lokalisir agar api tidak merembet ke bangunan utama pabrik.
“Begitu tiba, komandan regu langsung melakukan size up atau pengamatan visual dari jarak aman. Kami melihat asap pekat keluar dari tumpukan, sehingga tim segera menggelar dua selang ukuran 1,5 inci dan 2,5 inci untuk melakukan penyemprotan dan pengecoran air secara intensif,” kata Edy.
Proses pemadaman tumpukan sekam ini diakui Edy membutuhkan teknik khusus dan kesabaran ekstra karena sifat materialnya yang menyimpan bara di lapisan bawah.
“Memadamkan sekam itu tidak bisa hanya disemprot permukaannya saja. Tim kami harus melakukan pengecoran air ke dalam tumpukan dan mengurainya secara manual. Jika tidak diurai, bara api yang tersembunyi di bawah bisa memicu penyalaan ulang atau reignition setelah petugas meninggalkan lokasi,” tegas Edy.
Setelah berjibaku selama kurang lebih tiga jam, api akhirnya dinyatakan padam sepenuhnya pada pukul 10.22 WIB. Sebanyak 8 personel dikerahkan untuk memastikan area benar-benar aman dari potensi bahaya susulan.
“Kami memastikan tidak ada lagi bara api yang tertinggal sebelum tim ditarik kembali ke Mako. Kami juga bersyukur tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam musibah ini, baik dari pihak karyawan maupun petugas yang bertugas di lapangan,” pungkas Edy Supriyono.
Pihak Damkarmat mengimbau kepada para pemilik usaha yang memiliki penyimpanan limbah organik atau bahan mudah terbakar agar lebih waspada terhadap suhu gudang, terutama saat memasuki musim kemarau atau cuaca panas yang menyengat guna mencegah kejadian serupa terulang kembali. (CZ)










