Pulang dari perjalanan, pada sore hari, dari arah Kraksaan ke Probolinggo berjumpa dengan bus yang di belakangnya terdapat tulisan, “ORA NGERTI REKASANE, MUDENGMU GOR MAIDO”. Tulisan bahasa Jawa. Artinya, “Tidak mengerti betapa sulitnya, bisamu hanya menyalahkan”.
Tulisan di bus memiliki realitas maknanya sendiri. Bisa berbeda makna dari sang pembuat dengan pembacanya. Profesi berkaitan dengan moda transportasi (sopir, kondektur, kernet dan lain-lain) itu berat. Diburu waktu di antara peluh keringat, deru dan debu. Profesi yang sangat mulia karena memudahkan dan memperlancar urusan perjalanan manusia. Tidak ada yang salah.
Soal tabiat sebagian manusia yang selalu menyalahkan manusia lainnya, jadi ingat kisah Luqman Al-Hakim. Kisah yang masyhur di lingkungan pondok pesantren. Termasuk salah satu khazanah keislaman yang kisahnya menjadi pelajaran dalam memahami hidup dan kehidupan. Luqman adalah hamba Allah yang mendapatkan ilmu, hikmah dan pandai bersyukur. Namanya diabadikan dalam Al-Quran (QS. 31. Luqman:12).
Kisah Luqman menurut versi yang sering saya dengar, saya ceritakan kembali -kurang lebih- sebagai berikut:
Luqman Al-Hakim bersama anaknya -bahasa sekarang- melakukan eksperimen jalan-jalan atau menempuh suatu perjalanan dengan membawa keledai. Keledai secara umum mirip kuda. Bedanya, tubuh keledai lebih kecil, tidak secepat dan sekuat dibandingkan dengan kuda. Keduanya (keledai dan kuda) sangat populer sebagai hewan pekerja, sarana transportasi yang handal pada masa yang silam.
Perjalanan Luqman, anaknya dan keledai membuktikan bahwa manusia suka “maido” apa yang dilakukan manusia lainnya. Saling menyalahkan adalah hal yang biasa dilakukan antar manusia.
Mula-mula Luqman menaiki keledai. Anaknya berjalan menuntunnya. Berjumpalah dengan sekelompok manusia yang mencelanya. ”Aih, anaknya yang menuntun, orang tuanya duduk nyaman di atas keledai. Betapa sombong dan tidak belas kasihan orang tua itu kepada anaknya”. Luqman pun berkata, “Apa yang mereka katakan anakku?”
Kemudian Luqman bergantian posisi dengan anaknya. Luqman yang menuntun dan anaknya naik di atas keledainya. Mereka melanjutkan perjalanan hingga bertemu sekelompok manusia.
Sekelompok manusia itu pun spontan menyalahkan, ”Lihatlah, anak kecil itu menaiki keledai, sementara orang tua itu malah berjalan kaki menuntunnya. Sungguh, alangkah buruknya akhlak anak itu. Orangnya tidak mendidik tentang adab.” Luqman pun berkata, ”Anakku, dengarkan apa yang mereka katakan?”
Kini mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan berdua menaiki keledai mungil itu. Mereka berdua terus berjalan hingga melewati sekelompok manusia. Apa cemooh mereka? “Lihatlah dua orang itu naik keledai berboncengan. Betapa mereka tidak kasihan keledainya kepayahan menanggung beban,” cemooh mereka. Luqman pun berkata, ”Anakku, dengarkan apa yang mereka katakan?”
Luqman dan anaknya kembali melanjutkan perjalanan. Akhirnya mereka jalan kaki sambil menuntun keledai bersama. Cara inipun memunculkan celaan ketika bertemu kelompok manusia lainnya lagi. “Lihatlah bapak dan anaknya menuntun keledai bersama. Betapa bodohnya mereka. Mengapa tidak menaiki keledainya saja?”
”Anakku apa yang mereka katakan? Bukankah sudah aku jelaskan padamu, tidak ada perbuatan yang dapat memuaskan semua orang”. Nasihat Luqman mengakhiri perjalanan eksperimen bersama anaknya yang membuktikan kebanyakan manusia pintar menyalahkan manusia lainnya.
Luqman naik keledai, anaknya yang menuntun, salah. Anaknya di atas keledai, Luqman yang menuntun, salah. Keledai dinaiki bersama, salah. Keledai dituntun bersama, juga salah.
Saling menyalahkan antar manusia gampang di jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak golongan manusia, sekalipun tidak punya kepentingan, menyalahkan manusia lainnya. Seolah menguatkan adanya golongan manusia yang “susah melihat orang senang, senang melihat orang susah”.
Bagaimana kehidupan anak dalam keluarga sebagai tempat pertama penanaman nilai dan norma, kemudian berjumpa dengan teman sebayanya, di sekolah dan setelah dewasa di tempat kerja, lingkungan masyarakat dan media massa?
Kehidupan keluarga yang sakinah (tenang/tentram), mawaddah (cinta kasih) dan warahmah (rahmat) sulit terwujud apabila dipenuhi interaksi sosial yang saling mencela dan menyalahkan.
Soal penanaman nilai dan norma di keluarga, puisi karya Dorothy L. Nolte berjudul “Children Learn What They Live” (1954) menarik menjadi bahan refleksi bersama. Cuplikannya: “Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan”.
Di luar rumah, ketika bermain anak berjumpa dengan teman lainnya yang lebih dulu pintar membully dan biasa pula melakukan tindakan kekerasan. Berkumpul anak jalanan (anjal), kebut-kebutan dengan mengacung-acungkan senjata tajam. Pesta minuman keras (miras) oplosan berujung pada kematian.
Di sekolah atau lingkungan pendidikan lainnya telah terjadi tiga dosa besar. Dosa intoleransi, perundungan dan kekerasan seksual. Berlanjut di lingkungan kerja, muncul fenomena baru “staycation” yaitu liburan (bermalam) dalam kota bersama bos sebagai syarat memperpanjang kontrak kerja.
Kehidupan di tingkat RT dan RW selalu ada pihak yang “kepo” dan mudah menyalahkan. Berkembang lebih luas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dimana antar golongan manusia semakin riuh salah menyalahkan.
Di berbagai media massa berseliweran berita hoax yang diproduksi oleh para buzzer. Tidak jelas mana opini dan mana berita. Mana fakta dan fake, mana yang jujur dan mana hoax. Berbaur dalam kontestasi politik, semakin santer saling mencela dan menyalahkan.
Padahal sistem demokrasi seharusnya dapat mewujudkan “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”, yaitu negeri yang berkumpul seluruh kebaikan. Kebaikan alam (SDA yang berlimpah) dan kebaikan perilaku penduduk (SDMnya). Bukankah negara ini lahir “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa?”
Kehidupan berbangsa dan negara “mudengku, mungkin juga mudengmu, gor maido” dan tidak tahu harus bagaimana memberi solusi. “Evil reigns when good people are silent. Keep doing good, don’t be afraid to be blamed” (Kejahatan berkuasa ketika orang baik diam. Tetaplah berbuat baik, jangan takut disalahkan).











