Menelisik Arti Hidup

Comment2,156 views
  • Share

Di depan kamar asrama Pondok Mahasiwa Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo tampak seperti mengheningkan cipta, Minggu (19/11/2023). Ngaji kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah dan Solawat Burda dilaksanakan untuk pertama kalinya. Mahasiswa duduk bersila. Kitab, pensil dan buku catatan tak luput ia bawa. Mereka dengan khusuk menyaksikan video yang tampil dilayar proyektor.

Sebagian lampu dimatikan untuk memperjelas cuplikan film bahasa inggris dengan subtitle Indonesia. Di atas karpet yang berjarak 4 meter di depan para mahasiswa, sosok K. Muhammad Imdad Rabbani duduk bersilah menjadi pensyarah.

Malam itu, tak ada pemaknaan serta pembahasan mengenai kitab Al-Aqidah Al-Islamiyah. Gus Imdad mengungkapkan pada pertemuan perdana ini, hanya pemutaran tiga video, salah satunya karya Tariq Ramadan, tentang Spiritualitas – Mencari Makna, lalu refleksi dan mendiskusikan.

Dalam vidio terlihat beberap orang mengungkapkan tujuan hidupnya? Ada yang ingin jadi orang sukses, ingin bahagia, dan lain-lain. Begitupun juga ditanya, di hari terakhir hidupmu apa yang kamu lakukan? Mereka menjawab ingin meminta maaf kepada orang-orang yang pernah di-bully, ingin memberikan semua uang untuk membangun pesantren, dan juga ada yang ingin salat.

“Apa yang kalian tangkap dari vidio itu?” Tanya K. Imdad. “Menurut saya, apa tujuan kita hidup di dunia ini, karena mereka mengatakan tujuan hidupnya secara bebas dan berbeda-beda,” jawab (Ali) salah satu peserta.

Jika demikian, K. Imdan pun kembali bertanya, apa tujuan hidupmu?
“Belum tau, saya bingungkan, jika kita sudah mengetahui tujuan hidup maka kita akan tahu apa yang harus kita lakukan untuk kedepannya,” pungkas Ali.

Meskipun terlihat sederhana pertanyaan itu, seringkali kita anggap hal biasa, bahkan kita abaikan. Padahal samgat penting bagi setiap insan untuk membiasakan diri bertanya pada dirinya sendiri, apa tujuan kita hidup. Karena tidak mungkin bisa kita hindari selama kita hidup.

K. Imdad menjelaskan, jika kebutuhan ekonomi, fisik dan materi kita sudah terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan baru yaitu: kebutuhan makna hidup, apa arti kita hidup ini. “Masa ini akan ada di dalam kehidupan ketika kita mengalami masalah besar dan seterusnya,” katanya.

Mengutip perkataan Mircea Eliade, Tariq Ramadan mengatakan bahwa, pertanyaan dan pencarian agama itu struktur intelektual dari manusia, tidak akan ada kedamaian jika anda tidak mendapatkan jawaban.

Memilih untuk menjawab atau tidak merupakan pilihan. Sialnya tanpa jawaban pertanyaan itu akan selalu gentayangan. Gus Imdad berkata, tak sedikit manusia secara tidak sadar mendistraksi pertanyaan itu dengan cara menyibukkan diri melalui pelbagai kegiatan, “distraksi sebagai pengalihan intelektual supaya tidak kepikiran mati”.

Gus Imdad mencontohkan: Blaise Pascal, seorang ahli matematika sangat serius belajar matematika, tujuanya sebagai pengalihan intelektual supaya tidak mikir mati. Pun segala cara dilakukan, pada akhirnya suatu hari akan menghadapi kematian.

Comment2,156 views
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.