Mahasiswi Unej Meninggal Ikut Diklat Pecinta Alam, Begini Proses Evakuasinya

Comment1,487 views
  • Share

Jember, Kuasarakyat.com – Kabar mencengangkan berasal dari mahasiswi Fakultas Teknik Universitas Jember (Unej) Nadhifa Naya Damayanti (18) asal Berau, Kalimantan Timur diketahui Meninggal saat ikut kegiatan Diklat Dasar Pecinta Alam yang dilaksanakan oleh Mahasiswa Divisi Pecinta Alam (MAHADIPA) Fakultas Teknik Universitas Jember.

Kejadian meninggalnya perempuan mahasiswa asal Kalimantan Timur itu terjadi sekitar pukul 03.00 WIB, Sabtu dini hari (11/11/2023).

Terkait proses evakuasi korban, diketahui dibantu oleh Tim Basarnas Jember bersama dengan potensi SAR lainnya. Korban diduga meninggal akibat sakit dari riwayat penyakit yang dideritanya. Korban saat ikut kegiatan Diklat Dasar Pecinta Alam itu bersama dengan 13 orang lainnya asal kampus yang sama.

Lokasi korban ikut kegiatan pecinta alam itu, berada di wilayah Hutan Lindung antara petak 64C RPH Arjasa dan 74 RPH Jelbuk BKPH Lereng Pegunungan Argopuro. Tepatnya sekitar Air Terjun Rayap, Kecamatan Arjasa, Jember.

Menurut Dantim Operasi Evakuasi Basarnas Jember Rudy Prahara, terkait kejadian meninggal mahasiswi asal Unej itu. Saat ini masih dalam proses penyelidikan polisi. Namun terkait proses evakuasi korban dari lokasi diklat pecinta alam yang diikuti. Dilakukan oleh Tim dari Basarnas Jember bersama potensi SAR lainnya.

“Awalnya kita sekitar pukul 3 dini hari dapat perintah dari Korpos Basarnas Jember. Untuk melaksanakan permohonan evakuasi terkait seorang mahasiswi dari Himadipa (MAHADIPA) Kampus Fakultas Teknik Universitas Jember,” kata Rudy saat dikonfirmasi di Kamar Mayat RSD dr. Soebandi Jember, Minggu (12/11/2023).

“Laporan yang kami terima, Korban mengalami kondisi trouble dan kondisi medis emergency yang membutuhkan untuk dilakukan evakuasi,” sambungnya.

Dari perintah melakukan tugas evakuasi itu, Rudy menjelaskan, pihaknya langsung membentuk tim dan segera melakukan proses evakuasi menuju lokasi kejadian. Tim Basarnas Jember berangkat ke lokasi sekitar pukul 3 dini hari.

“Kami dibantu dengan teman-teman tim potensi SAR sebagai Tim Aju (Tim yang berangkat dulu ke lokasi korban). Dari proses evakuasi itu, info dari Tim Aju. Kesulitan (saat proses evakuasi) adalah lokasi dari Diklat Korban yang jauh dari pemukiman warga. Untuk menuju lokasi, hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki ataupun motor,” jelasnya.

Selanjutnya karena kondisi korban yang dinilai sudah kritis, kata Rudy, proses evakuasi tidak bisa menggunakan motor.

Untuk proses evakuasi, lebih lanjut Rudy menjelaskan, dilakukan dengan cara estafet. Tim Aju yang sudah berada di lokasi korban, melakukan proses evakuasi dengan cara dipanggul. Menuju lokasi mobil 4×4 milik Basarnas Jember yang diparkir di lokasi titik akhir jalan setapak.

“Tim evakuasi berjalan kaki sejauh kurang lebih 1,5 Km dengan medan yang terjal dan kontur jalan naik turun. Kemudian (sampai) di lokasi (parkir) mobil 4×4. Kami langsung evakuasi menuju RSD dr. Soebandi Jember,” ulasnya.

Saat proses evakuasi, lebih jauh Rudy mengatakan, korban kala itu masih dalam kondisi sadar.

“Dalam proses evakuasi (dari lokasi korban awal) kondisinya masih bisa terbaca nadinya. Tapi saat proses evakuasi menuju rumah sakit, saya sudah tidak merasakan ada denyut nadi,” kata Rudy.

Selanjutnya saat sampai di IGD rumah sakit. Dipastikan kondisinya, dan di sana dari keterangan dokter IGD dinyatakan meninggal dunia. selanjutnya diarahkan ke Kamar Jenazah. Karena kondisi jalanan terjal dan medan yang sulit, diakui oleh Rudy, proses evakuasi membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. (Gusti)

Comment1,487 views
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.