Indeks

Paradigma Baru Dalam Orientasi Mahasiswa

Comment1,925 views
  • Share

 “Mahasiswa” merupakan sebuah istilah atau nama bagi seseorang yang sudah berada dalam jenjang pendidikan tinggi. Yang secara psikologis sudah mulai banyak tuntatan yang disebabkan oleh perkembangan fisik maupun pikiran, yang salah satu tujuannya adalah untuk kehidupan masa depan atau karir. Perkembangan kognitif individu sangat berpengaruh dan berperan besar terhadap pemikiran, pendidikan dan pengalaman yang dibutuhkan sebagai bekal dan persiapan masa mendatang.

Seperti yang telah umum terjadi, dikampus-kampus manapun baik negeri atau swasta, kampus kecil atau besar. Orientasi mahasiswa baru merupakan bagian yang tidak terpisahkan, seakan menjadi suatu kewajiban bagi mahasiswa baru untuk mengikuti kegiatan orientasi tersebut. Seolah-olah, seorang calon mahasiswa “tidak sah” menjadi mahasiswa jika tidak mengikuti rangkaian kegiatan orientasi tersebut.

Salah satu tujuan adanya orientasi bagi mahasiswa baru adalah sebagai bentuk pengenalan terhadap dunia baru yang membutuhkan semangat yang besar untuk menjalaninya. Atau dengan kata lain, adanya transisi pada calon mahasiswa baru sehingga membutuhkan pengenalan terkonsep dan sistematis dalam bingkai orientasi. Sehingga, proses pengenalan pada lingkungan kampus, pendidikan dan lingkungan sekitarnya lebih terarah.

Dalam orientasi mahasiswa baru juga ada istilah penguatan mental, yang mana mahasiswa baru akan diberi sederet kegiatan dan permainan serta atribut yang bisa memunculkan dan menguatkan mental mereka. Bahkan tidak jarang sampai ada yang menggunakan cara “sentuh fisik” untuk menguatkan mental mereka. Nah, dari sini acara pelaksanaan orientasi mahasiswa baru di kampus kadang masih menekankan senioritas-junioritas yang berlebihan sehingga dapat menimbulkan tindakan yang kurang berkenan, seperti halnya kekerasan fisik. Tindakan tersebut terjadi karena ada kesalahan pemahaman atau tidak samanya persepsi dalam nilai-nilai urgen dan luhur dari sebuah “orientasi” itu sendiri. Tidak jarang mahasiswa baru banyak mengeluh karena mereka merasa tidak nyaman, baik hati, perasaan maupun fisik mereka terhadap tindakan yang dilakukan oleh seniornya.

Tindakan bentak-bentak atau bahkan sampai menyentuh fisik mahasiswa baru yang katanya bisa menguatkan mental mereka, agar mereka tidak mudah baper, agar menjadi mahasiswa yang tidak cengeng, agar menjadi penerus yang tangguh dan lain sebagainya. Sebenarnya, semua konsep dan tindakan seperti itu bisa dirubah dengan konsep yang humanis, dengan kegiatan-kegiatan ilmiah, diskusi, dan pembinaan karakter (Akhlak utamanya). Karena setinggi apapun pendidikan seseorang, jika tidak mempunyai akhlak yang baik, maka tidak ada nilainya. Sepertinya kita semua sepaham bahwa tujuan utama dari pelaksanaan kegiatan orientasi mahasiswa adalah agar mereka bisa dengan cepat dan baik dalam beradaptasi dengan lingkungan dan suasana baru, baik yang berhubungan dengan akademik maupun non akademik.

Miris sekali jika kagiatan orientasi mahasiswa baru tidak menunjukkan hal-hal yang humanis. Dan sangat disayangkan sekali jika pelaksanaan kegiatan orientasi mahasiswa baru akan menimbulkan konflik atau meninggalkan bekas-bekas negatif. Bagaimanapun, orientasi mahasiswa baru merupakan bagian dari kegiatan pendidikan, karena didalamnya ada kegiatan-kegiatan unsur pendidikan. Dan seharusnyalah kegiatan orientasi mahasiswa baru menghasilkan sesuatu yang positif dan berarti bagi mahasiswa yang merupakan generasi intelektual masa depan.

Kegiatan orientasi mahasiswa baru perlu dan harus memberikan kesan positif dan membanggakan, dan yang lebih urgen adalah jangan sampai meninggalkan “trauma” pasca kegiatan orientasi mahasiswa baru berlangsung. Kegiatan orientasi mahasiswa baru harus sejalan dengan visi dan misi kampus atau pendidikan di Indonesia.

Dalam kegiatan orientasi mahasiswa baru ini, harus memiliki konsep yang jelas, dari teknis pelaksanaan terutama, memang harus jelas. Aturan-aturan main yang dipakai dalam kegiatan orientasi mahasiswa baru juga termasuk didalamnya, diperjelas fungsinya. Atribut-atribut yang dibebankan dan diperintahkan untuk dibawa, juga harus jelas manfaatnya apa?. Budaya senioritas dalam menghadapi mahasiswa baru harus dihilangkan, agar tidak menjadi “tauladan” masa mendatang. Karena manusia itu lebih cenderung mudah mengerjakan dengan contoh. Jadi, tidak menutup kemungkinan apa yang dilakukan oleh seniornya saat ini akan menjadi contoh juniornya untuk masa yang akan datang. Dan ironisnya, itu contoh yang tidak pantas untuk dilakukan misalnya. Jangan lagi ada “job” dikalangan senior yang dapat “melukai” harga diri seorang mahasiswa.

Panitia pelaksana kegiatan orientasi mahasiswa baru harus searah dengan tujuan institusinya, karena mereka akan menjadi panutan mahasiswa baru. Memberikan motivasi pada nilai-nilai keislaman, terutama dalam hal “hablun min Allah wa hablun min al-Nas”, ibadah dan muamalah juga diprioritaskan. Intinya, panitia harus memberikan contoh yang baik, positif, dan berguna untuk mahaiswa baru.

Begitu pula susunan daily activity kegiatan orientasi mahasiswa baru, harus mengcover semua kebutuhan mahasiswa baru dan bermanfaat bagi mereka. Yang tentunya diawali dengan langkah awal yang panjang waktunya, mulai dari menentukan ide, menganalisis kebutuhan, evaluasi, menyusun materi ilmiah, sosialisasi dan koordinasi, sampai pada eksekusi kegiatannya, dan evaluasi secara konprehensif setelah acara kegiatan selesai.

Menutup catatan ini, penulis ingin bersama-sama mengajak para pemangku kepentingan, baik dari institusi maupun akademisi. Agar pelaksanaan kegiatan orientasi mahasiswa baru ini lebih mengedepankan kepentingan dan kebutuhan mahasiswa, contoh-contoh yang sekiranya akan membuat tindakan yang tidak baik untuk waktu yang akan datang lebih baik dihindari. Mari kita kawal perubahan orientasi mahasiswa baru dikampus tercinta kita ini, agar kedepan ada perubahan tradisi yang lebih baik untuk kampus yang dari awal telah sama-sama kita perjuangkan keberadaannya ini. Sebisa mungkin kita ciptakan nuansa orientasi mahasiswa baru dengan rasa keakraban, kekeluargaan dan positif dalam tindakan.

Penulis:
Suyono, S.Sos.I,.M.Pd.I
Dosen dan Pembantu Ketua III STAI Nurul Abror Al-Robbaniyin

Writer: Suyono, S.Sos.I,.M.Pd.I
Comment1,925 views
  • Share
Exit mobile version