Pasangan Suami Istri Jadi Korban Ritual Maut, 5 Anak di Ajung Yatim Piatu

Comment3,177 views
  • Share
Peristiwa ritual maut
Warga saat menunggu kedatangan jenazah Syaiful dan istrinya yang menjadi korban ritual maut

Jember, kuasarakyat.com – Peristiwa ritual maut yang menewaskan 11 orang di Pantai Payangan Watuulo Ambulu Jember, menyisakan duka mendalam bagi Edo adik dari Syaiful (35) korban terakhir yang ditemukan tim SAR saat jamaah Padepokan Tunggal Jati Nusantara yang menjadi korban meninggal.

Syaiful tidak sendiri, Istirnya Sri Wahyuni (30) yang juga ikut dalam rombongan jamaah juga meninggal dalam ritual tersebut, ironisnya, kedua suami istri yang tinggal di Dusun Krajan Desa Ajung Jember ini meninggalkan 5 anak yang masih kecil, dimana sulungnya masih kelas 2 SMP.

“Ada 5 anaknya, yang pertama usia 15 tahun, yang kedua 12 tahun, yang ketiga 10 tahun, yang ke 4 5 tahun dan yang terakhir masih 3 tahun,” ujar Edo saat menunggu kedatangan jenazah kedua saudaranya.

|Baca Juga: Sebelum Berangkat Ritual, Beredar Vidio Jamaah Padepokan Gelar Rukyah di Padepokan

Menurut Edo, dirinya maupun tetangganya tidak mengetahui ritual yang diikuti oleh kedua saudaranya tersebut, yang ia tahu, bahwa dalam 2 bulan terakhir ini saudaranya mengikuti kegiatan pengajian.

“Ya tahunya kami mengikuti pengajian, baru sekitar 2 bulan, biasanya membawa anaknya yang besar, dan anak-anaknya yang lain dititipkan ke saudaranya, cuma tadi malam semua anaknya ditinggal dalam satu rumah dan tidak ada yang dibawa atau dititipkan ke saudaranya seperti biasanya,” jelas Edo.

Bahkan sehari sebelum peristiwa maut merenggut, tidak ada tanda-tanda atau firasat yang ditunjukkan kedua korban. “Kalau firasat saya tidak tau, mungkin anaknya yang tau, sebab biasanya saat berangkat pengajian anaknya ada yang dibawa, cuma tadi malam kok semua ditinggal disini dan tidak ada yang diajak,” jelasnya.

|Baca Juga: Pimpinan Ritual Selamat dan dalam Perawatan, Polisi Dalami Unsur Pidana

Edo hanya menyatakan, bahwa saudaranya tersebut berangkat pada Sabtu (12/2/2022) malam sekitar jam 9 malam, dan biasanya pulang pada jam 3 pagi. “Tadi malam berangkat jam 9, biasanya pulangnya jam 3 pagi, terus jam 6 pagi tadi saya ketuk rumahnya, dan saya tanya ke anak-anaknya, katanya bapaknya belum pulang, setelah itu ada beberapa orang yang memberi tahu kalau yang ikut ritual terseret ombak,” ujar Edo.

Kini untuk membesarkan keponakannya tersebut, Edo bersama tetangga dan saudaranya yang lain akan bahu membahu dalam mengawasinya. (Ma)

Comment3,177 views
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.