Indeks

Quo Vadis Generasi Santri 5.0 di Era Digital

Comment2,656 views
  • Share

Apa yang terbayang di benak masyarakat kita ketika mendengar kata “santri” disebut? Belum lagi jika ditanyakan lebih lanjut secara detail. Apa peran santri di era digital? Pertanyaan lebih milenial misalnya, apa peran dan kontribusi santri di era society 5.0 saat ini? Jawabannya tentu saja bisa beragam.

Sejak Francis Bacon (1561-1626 M) ilmuwan Prancis, membalikkan paradigma keilmuan dari era abad pertengahan ke modern dengan teori heliosentris (matahari pusat jagad semesta)-nya yang menentang kepercayaan gereja dengan teori geosentris (bumi pusat alam raya), era kelahiran kembali (renaissance era) mulai membayangi masyarakat Eropa.

Era pencerahan (enlightenment era) pun menyeruak di Eropa. Revolusi industri tahap pertama tercipta dengan ditemukannya beragam alat-alat dan mesin untuk membongkar dan menguak rahasia alam semesta. Revolusi industri tersebut ternyata membawa dampak positif dan negatif sekaligus. Dampak positif dirasakan oleh masyarakat dengan adanya mesin-mesin yang dapat membantu menyelesaikan persoalan-persoalan yang tidak bisa dijangkau oleh tangan manusia. Misalnya, terciptanya kereta api memudahkan perjalanan antar negara, adanya telegram mempercepat dalam sebaran informasi, dan sebagainya. Sementara dampak negatif yang dirasakan adalah semakin teralienasi dan terisolasinya manusia dipinggiran mesin-mesin raksasa yang berkuasa dengan tujuan eksploitasi alam semesta dan segala isinya.

Gerak zaman dan waktu memang tidak bisa dikendalikan oleh manusia, sang penemu dan pencetus era pencerahan. Modernitas terus membayangi Eropa hingga menyisir dan masuk ke berbagai negara lain di luar benua biru itu. Tak terkecuali, negara kita Indonesia.

Pergeseran paradigma (shifting paradigm) yang digagas oleh Thomas S. Kuhn (2002) terbukti saat ini. Menafsir tesis Kuhn tersebut, pola pikir, nalar kritis dan cara pandang baru (new world view) menurut M. Amin Abdullah (2019), Guru Besar Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, dalam memandang gerak kehidupan-pun tak dapat dielakkan. Revolusi industri tahap kedua—jika tepat penyebutan ini—merasuk ke jantung negara kita di berbagai lini kehidupan. Era digital memaksa kita untuk berjalan seiring dengan kemajuan yang cepat dan dahsyat yang terjadi di negara-negara kaya dan maju. Kemajuan di ranah IT ini dirasakan oleh segenap elemen masyarakat tanpa terkecuali. Termasuk dalam hal ini adalah kaum santri yang berdomisili di pesantren.

Di tengah derasnya arus kecanggihan IT ini para santri merasakan euforia  informasi digital yang melimpah. Para santri pun merasakan “berkah pandemi” dengan mengasah pengetahuan dan kemampuannya di ranah IT dengan beragam inovasi, kreatifitas  dan temuan-temuan baru.

Beragam program pemberdayaan terhadap santri digalakkan di berbagai lembaga yang ada di pesantren. Pemberdayaan ini terutama menyisir para mahasiswa yang ada di pesantren. Misalnya, dari pelatihan ekonomi kreatif, pelatihan making digital content dan aplikasi di medsos, pelatihan edupreneurship, manajemen kepemimpinan berbasis digital, (digital leadership management), hingga berbagai webinar nasional maupun internasional yang mendukung ke arah pengembangan potensi santri di era society 5.0.

Mengapa para santri bisa unjuk kemampuan seperti itu? Faktor apa yang mendasari hingga para santri begitu enjoy, welcome, dan tanpa ragu “memeluk” canggihnya IT?

Inilah yang perlu diketahui oleh masyarakat luas di negara ini, bahkan dunia internasional. Jawaban sederhananya adalah ‘moto pesantren’ yang familiar itulah salah satu pendorongnya. “Al-muhafazah ‘ala al-qadim al-salih wa al-akhz bi al-jadid al-aslah”. Berpegang teguh pada tradisi yang baik sembari berkreasi dan berinovasi dengan hal-hal baru yang dibawa oleh canggihnya IT.

Itulah generasi “santri 5.0”. Sebutan ini untuk menggambarkan betapa urgen-nya peran dan kontribusi kaum santri di era society 5.0. Sebuah era dimana manusia adalah pusat segalanya (human centered). Era dimana segala sesuatu berlandas tumpu pada teknologi (technology based), yakni Internet on Thing (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intellegence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar) dan robot untuk menciptakan kualitas hidup manusia.

Zamakhsyari Dhofier (2016) menyebut salah satu unsur pesantren adalah kitab kuning. Kitab kuning (yellow book) yang terdapat di pesantren pun kini mengalami digitalisasi sebagai akibat dari pesatnya revolusi industri di era 4.0. Muncullah kompilasi kitab kuning (yellow book compilation) dalam istilah ‘maktabah syamilah’ yang menghimpun karya-karya ilmiah para ulama Islam.

Revolusi industri 4.0 mau tak mau merambah dunia pesantren dan para santrinya. Dan saat ini, karena berjibaku dengan era society 5.0 tak berlebihan jika pesantren dituntut untuk mampu menciptakan kader-kader “santri 5.0” yang mampu membawa misi pesantren dengan moto rahmatan lil ‘alamin.

Generasi “santri 5.0” tidak perlu terlalu silau dengan kemajuan IT peradaban Barat. Mereka hanya mengulang sejarah saja, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh zaman keemasan (golden age) peradaban Islam klasik. Pada era ini telah muncul ilmuwan-ilmuwan Islam kelas dunia seperti Ibn Haitsam (965-1040 M) dengan mahakaryanya ‘al-Manazhir’ (The Optics), Al-Biruni (973-1048 M), pakar astrologi dengan kitabnya ‘al-Tafhim li Shina’ah al-Tanjim’ menemukan alat ukur serta timbangan akurat terhadap objek-objek fisik, Abdurrahman Al-Khazini (1115-11, penemu pertama teori gravitasi dengan karyanya ‘Mizan al-Hikmah’ (Balance of Wisdom), Nashiruddin Al-Thusi (1201-1274 M), pencetus trigonometri sebagai suatu disiplin matematika tersendiri melalui karyanya ‘Treatise on the Quadrilateral’ dan sebagainya.

Berpegang pada “moto pesantren” di atas, generasi santri di era society 5.0 seyogyanya mampu memanfaatkan kecanggihan penguasaannya di ranah IT untuk memarketkan konten-konten positif di berbagai media sosial yang menjamur saat ini.

Beragam media sosial—mulai dari Facebook, Instagram, WhatsApp, hingga Twitter—harus dikuasai oleh generasi “santri 5.0” guna menyampaikan pesan-pesan Islam yang konstruktif, kontributif, santun, damai dan menyejukkan. Di tengah-tengah kebinekaan kita yang sangat tinggi, peran ini terasa begitu penting dan signifikan untuk diunggah oleh generasi “santri 5.0”.

Generasi “santri 5.0” tak perlu minder, bahkan harus berbesar hati karena mereka memiliki “dalil IT” mengapa harus ber-twitter ria. K.H. A. Mustofa Bisri adalah jawabnya. Sosok Kiai yang aktif ber-twitter ini bisa dijadikan the role model  para generasi “santri 5.0” untuk berselancar di dunia maya dengan menebar konten-konten positif, konstruktif, dan membangun bagi pengembangan wawasan kebangsaan kita.

Bijak dalam bermedsos yang diteladankan oleh Gus Mus—panggilan akrab beliau—adalah motivasi bagi generasi “santri 5.0” untuk menguasai IT dalam berdakwah dengan cara yang santun, ramah, dan bukannya marah-marah. Teladan Gus Mus adalah Alqur’an dan pola dakwah Nabi Saw yang persuasif. Dalam Alqur’an disebutkan “ajaklah manusia kepada jalan Allah dengan hikmah dan dengan pelajaran yang baik” (QS. Al-Nahl [16]: 125). Kanjeng Nabi Saw pun dalam berdakwah memberi teladan yang santun, ramah, lemah lembut, dan menyejukkan. ‘Kana khuluquhu Alqur’an’. Akhlak beliau adalah Alqur’an. Para akademisi menyebutnya ‘the living qur’an’. Dan begitu pula kita mengenalnya seperti yang diajarkan oleh para Kiai di pesantren-pesantren di Nusantara.

Generasi “santri 5.0” juga bisa menjadi duta wacana moderasi beragama di tengah pluralitas dan multikulturalitas negara kita yang sangat kaya. Mereka juga bisa menginspirasi masyarakat dengan beragam inovasi kreatif mereka. Hal ini ditunjukkan misalnya oleh salah seorang santriwati Pondok Pesantren Darussalam Banyuwangi yang terpilih dalam 10 “Jagoan Bisnis Banyuwangi”. Santriwati yang juga mahasiswi pada prodi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAI Darussalam Blokagung Banyuwangi ini menginspirasi dengan inovasinya “U-West Fashion”.

Menyitir Ahmad Baso (2006) generasi “santri 5.0” harus menjadi subyek (fa’il), bukan obyek (maf’ul). Generasi “santri 5.0” seyogyanya menjadi produsen yang aktif dan bukan sekedar pembaca yang pasif. Mereka bisa menciptakan konten, fitur, dan aplikasi berbasis IT yang mendukung terbangunnya iklim toleran, moderat, dan saling menghargai antar sesama.

Dalam sinaran kebinekaan, generasi “santri 5.0” memiliki peran yang signifikan, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi dapat menjadi miniatur ‘Islam dunia’ yang kini tengah dilanda kegelisahan pencarian pola keberagamaan dan ide-ide kreatif yang sahih di era kekinian. Generasi “santri 5.0” adalah ‘wajah Islam Indonesia’ yang mampu menjadi perekat di antara ragam perbedaan yang ada di negara kita. “Santri 5.0” adalah jati diri bangsa, pengawal NKRI, penjaga gawang kebinekaan dan Pancasila.

Penulis adalah Dosen Mata Kuliah Pengantar Studi Islam
Prodi Manajemen Pendidikan Islam
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
IAI Darussalam Blokagung Banyuwangi dan
Pegiat Literasi Darussalam

Writer: Moh Nur Fauzi
Comment2,656 views
  • Share
Exit mobile version