Jember, kuasarakyat.com – Beberapa potongan video pendek yang menunjukkan adegan penarikan kendaraan di jalan menyebar secara berantai di sejumlah grup whatsapp warga.
Nampak dalam video tersebut, seorang pria berbaju merah berdebat sengit dengan penumpang yang berada di samping kursi sopir.
Keduanya, beradu mulut soal status kendaraan yang ditengarai sedang bermasalah. Entah lagi nunggak kredit atau hasil kejahatan lainnya. Yang pasti, pria baju merah tersebut berusaha keras mengambil alih kendaraan.
Setelah ditelusuri, diketahui pria di kursi penumpang adalah warga asal Desa Harjomulyo Kecamatan Silo bernama Dedi.
Dikonfirmasi, Dedi membenarkan bahwa itu adalah dirinya.
Ia menceritakan, peristiwa penarikan mobil dengan Nopol W-1829-PE terjadi pada Selasa (29/7/2025) dua hari lalu.
Dedi mengaku diberhentikan oleh beberapa pria dalam perjalanan menuju rumah sakit di kawasan kota Jember.
“Waktu itu saya perjalanan mau kontrol pasca operasi batu ginjal. Tiba-tiba dicegat di tengah jalan, terus ditanyai sembarang terutama soal status kendaraan,” ujarnya.
Dedi mengaku tidak tahu menahu soal status mobil tersebut, intinya ia meminjam kendaraan milik saudaranya. Kuat dugaan para pria tersebut adalah debt collector yang biasa menarik kendaraan di jalanan.
Di tengah gerombolan tersebut, Dedi yang sedang pemulihan pasca operasi merasa terintimidasi. Singkat cerita, pria diduganya mata elang itu berhasil menguasai kendaraan.
Usut punya usut, belakangan Dedi mengetahui bahwa pria berbaju merah adalah seorang oknum TNI aktif berpangkat kopral kepala berinisial F yang berdinas di salah satu batalion Jember.
Anggota TNI yang berprofesi sebagai jasa penagih hutang (debt collector) berarti telah bekerja di luar peran dan tugas Anggota TNI dan hal tersebut merupakan pelanggaran hukum.
Fakta itu tentu saja membuat Dedi geram sekaligus kecewa. Seorang tentara yang digaji oleh rakyat menurutnya, harus bisa mengayomi dan menjaga masyarakat.
“Setelah tahu (tentara) saya kecewa sekali, seharusnya mengayomi masyarakat malah jadi beking leasing, jadi tukang jabel kendaraan,” ucapnya kesal.
Dedi menyatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan melaporkan sang oknum ke Sub Denpom Jember agar tidak ada lagi aparat negara yang menjadi beking perusahaan.
Terlebih, pada saat kejadian permintaan Dedi agar diantar lebih dulu ke rumah sakit tidak digubris olehnya.
“Padahal saya sudah bilang mau kontrol, ini soal keselamatan orang lho malah dia ngajak saya muter-muter dan dibawa ke kantornya di Harmoni sekitar Stasiun Jember,” imbuhnya.
Kini, Dedi tidak tahu di mana keberadaan mobilnya. Ketika dia keluar dari kantor, saat itu juga mobilnya raib dari halaman.
“Ini jelas cara-cara preman, saya diminta koordinasi di kantornya, pas keluar mobil sudah tidak ada. Entah di mana mobil itu sekarang padahal saya juga tidak pernah tanda tangan penyerahan kendaraan,” pungkasnya. (Ma)