Viral Video Belatung di Menu MBG di Sempu Banyuwangi, Pihak SPPG Buka Suara

Comment46 views
  • Share

Banyuwangi, Kuasarakyat.com – Video yang memperlihatkan seekor belatung diduga muncul dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG) viral di media sosial. Video tersebut diunggah seorang wali murid di wilayah Kecamatan Sempu, Banyuwangi, setelah menemukan belatung pada lauk tahu yang diterima anaknya.

Dalam video yang beredar, perekam memperlihatkan seekor belatung di antara tahu yang menjadi bagian dari menu MBG. Perekam juga menyampaikan kekecewaannya terhadap makanan yang akan dikonsumsi anak tersebut.

“MBG-ne iki enek apane? Ngene ki kelendi? Ngene iki jenenge MBG, mangan bergizi ta**?” demikian narasi dalam video tersebut.

Perekam kemudian mempertanyakan kelayakan makanan itu apabila diberikan kepada anak-anak. “Hayo, kyok ngono iku. Kiro-kiro arep dipakakne anak,” lanjutnya.

Menu yang dipersoalkan tersebut didistribusikan ke salah satu madrasah ibtidaiyah (MI) di wilayah Karangsari, Kecamatan Sempu. Menanggapi video yang telanjur viral, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gendoh selaku penyuplai menu MBG di sekolah tersebut turut memberikan penjelasan.

Pihak SPPG Gendoh melalui Kepala SPPG Agis Danistha, menyebut menu yang dipersoalkan merupakan sajian untuk hari Selasa (06/10/26). Menu tersebut terdiri dari ayam, tahu, kubis, dan timun.

Menurut Agis, tahu yang digunakan merupakan tahu putih mentah yang diolah sendiri oleh tim dapur. Proses pengolahan dilakukan pada hari yang sama sebelum makanan didistribusikan kepada penerima manfaat.

“Tahu dimasak hari itu juga. Malamnya digoreng dan dibumbui sendiri, kemudian pagi menjelang siang didinginkan terlebih dahulu sebelum didistribusikan. Itu kami membeli tahu mentah, bukan tahu matang,” jelas Agis ditemui di kantornya, Kamis (08/10/26).

Pihak SPPG mengklaim proses pengolahan makanan telah dilakukan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP), termasuk dalam hal suhu memasak. Tahu juga disebut digoreng hingga panas melalui dua kali proses penggorengan sebelum dikemas.

“Proses produksi sudah sesuai SOP. Tahu putih digoreng dan dibumbui sendiri. Suhu memasaknya juga sudah sesuai SOP. Seharusnya belatung itu mati karena digoreng dengan suhu panas,” ujar Agis.

Setelah proses penggorengan, makanan terlebih dahulu didinginkan sebelum dimasukkan ke dalam wadah makan atau ompreng. Kemasan kemudian disegel sebelum didistribusikan ke sekolah penerima.

“Ditambah lagi saat ini aturan dari BGN tidak diperbolehkan membawa MBG pulang ke rumah. Dan itu (menu MBG) yang diunggah wali murid berada dalam wadah makanan anaknya sendiri dan menurut keterangan beliaunya sudah dibawa pulang ke rumah,” tambah Agis.

Meski demikian, lanjut Agus, pihaknya belum dapat memastikan dari mana asal belatung yang terlihat dalam video tersebut. Pihaknya juga telah bertemu dengan wali murid yang mengunggah video untuk mengklarifikasi kejadian itu.

“Sudah bertemu dengan pihak yang mengunggah video dan dibuatkan berita acara. Dari keterangan wali murid, yang bersangkutan menyampaikan tidak mengetahui asal muasal ulat tersebut,” ungkapnya.

Dalam berita acara tersebut, wali murid juga menyatakan tidak bersedia menerima MBG untuk anaknya. Namun, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai tindak lanjut atas temuan belatung dalam menu tersebut.

Agis menambahkan, pada hari pendistribusian itu, layanan MBG menjangkau 3.065 penerima manfaat dari 27 sekolah. Menurut keterangannya, laporan mengenai belatung tersebut hanya ditemukan pada satu kasus di satu sekolah, sementara distribusi ke sekolah lainnya disebut tidak mengalami kendala serupa.

“Total ada 3.065 penerima manfaat dari 27 sekolah. Dari seluruh distribusi itu, laporan adanya belatung hanya satu kasus di satu sekolah. Untuk sekolah lainnya, tidak ada laporan kendala serupa,” pungkasnya. (CZ)

Comment46 views
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.