Ada Cuan Dibalik Batu Tambang, Inisiator Blokade Jalan Propinsi Rambi – Puger : Saya Tidak Ikut – Ikut

Comment117 views
  • Share

Jember, kuasarakyat.com – Rencana Konsolidasi Akbar oleh kelompok masyarakat pimpinan Ustad Syija, terhadap keberadaan Pabrik Semen Imasco agar ditutup, yang direncanakan hari ini, Minggu (26/4/2026) menjadi polemik dan dinilai menciderai keperercayan sebagian masyarakat Puger.

Hal ini disampaikan oleh Kholilur Rohman, yang juga salah satu inisiator aksi blokade jalan dari Kecamatan Rambipuji hingga Puger pada 2024 silam.

Menurut Lilur panggilan Kholilur Rohman, apa yang dilakukan oleh kelompok Ustad Syuja, dianggap menciderai perjuangan masyarakat, dan melenceng dari tuntutan awal.

“Dulu kami melakukan blokade jalan, untuk dua hal yang mendasar, yakni perbaikan jalan, karena jalan rusak parah dan sering menimbulkan korban jiwa akibat kecelakaan,” ujar Lilur.

Sedangkan untuk tuntutan kedua, pihaknya menuntut, agar kelas jalan dari Jombang – Puger dan Rambipuji – Puger, juga ditingkatkan, karena dilalui oleh kendaraan besar yang muatannya diatas 15 ton.

“Sedangkan kelas jalan Propinsi dari Rambi ke Puger dan juga dari Jombang ke Puger, kelas jalan Propinsi yang kapasitasnya hanya bisa dilalui oleh kendaraan dengan muatan maksimal 10 ton,” jelasnya.

Dan tuntutan masyarakat saat itu, juga sudah dipenuhi, baik oleh pihak PT Imasco maupun oleh Pemerintah, baik Pemerintah Daerah maupun Propinsi.

“Peningkatan jalan tahun 2024 sudah dipenuhi dan diresmikan tahun 2025, dengan anggaran ratusan milyar, memang belum semua selesai, kalau keinginan dari Rambi dan Jombang ke Puger ditingkatkan semua, itu bisa bertahap, tahun inipun rencananya juga ditingkatkan, cuma saya melihat sepertinya tidak ada,” jelas Lilur.

Sedangkan mengenai acara Konsolidasi Akbar yang dilakukan oleh kelompok Ustad Syuja, Lilur tidak tahu menahu, termasuk beredarnya video pertemuan antara kelompok Ustad Syuja dengan pihak PT. Imasco dan Polres Jember.

Terlebih dalam video yang beredar, diketahui ada permintaan dari kelompok Ustad Syuja, terkait adanya permintaan batu tambang sebanyak 500 ton tiap bulannya.

Dalam video, terlihat pernyataan Ustad Syuja yang menyatakan, bahwa pihaknya tidak pernah meminta batu tambang sebanyak 500 ton ke pihak PT. Imasco.

Kemudian oleh pihak PT. Imasco disebutkan, bahwa permintaan itu dilakukan saat mediasi dan pertemuan di Pendopo Bupati.

Jawaban dari pihak PT. Imasco pun disikapi oleh Ustad Syuja, bahwa pihaknya tidak pernah menerima batu tambang sebanyak itu.

“Saya tidak tahu soal permintaan batu tambang 500 ton setiap bulan, kami hanya menerima 90 ton saja, dan ini ada catatanya semua,” sanggah ustad Syuja dalam video tersebut.

Dari pertemuan dan percakapan dalam video tersebut, Lilur menilai, bahwa langkah Ust. Syuja yang membawa nama aliansi dalam menyetujui kompensasi ini dinilai sepihak oleh sebagian kelompok masyarakat. Muncul tudingan bahwa kesepakatan ini adalah upaya pragmatis yang justru memperlemah posisi tawar (bargaining power) warga di hadapan raksasa industri seperti PT Imasco Asiatic.

​Kekecewaan ini diperparah dengan pemilihan tanggal penyerahan pada 20 Mei 2025, yang dianggap hanya menjadi simbolitas formalitas tanpa menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya dirasakan oleh warga terdampak langsung di sekitar pabrik. (Ma)

Comment117 views
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.