Lembaga Pembinaan Pondok Mahasiswa Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo menyelenggarakan Kuliah Tasawuf Ke – 5, pada Kamis, 23 November 2023, yang diisi oleh K. Muhammad Al-Fayyadl, M.Phil, pemangku Wilayah Jalaluddin Arrumi PP. Nurul Jadid berbagi pemahaman yang mendalam tentang Maqomat (Kedudukan Spritual) dan Ahwal (Keadaan Bathin).
Kuliah Tasawuf ini diikuti oleh semua Santri Mahasiswa Universitas Nurul Jadid Putera dan Puteri dan Umum.
Catatan Kuliah Tasawuf ini menjadi titik terang bagi para pencari ilmu tasawuf, sebuah perjalanan spiritual untuk membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan mencapai kesempurnaan lahir dan batin.
Kiai Muhammad Al-Fayyadl menuturkan bahwa
Ilmu tasawuf memiliki tujuan mendasar, yaitu mengetahui keadaan diri yang kurang baik dan tercela.
“Belajar tasawuf bukanlah pilihan, melainkan suatu kewajiban karena setiap manusia memerlukan proses pembelajaran untuk mencapai kedalaman pengetahuan. Ilmu ini menjadi kunci keselamatan kita di dunia dan akhirat,” terang beliau.

Dawuh beliau, para sufi mengambil ajaran dari Al-Quran dan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Tasawuf yang benar tidak lepas dari petunjuk Al-Quran dan Sunnah, di mana nabi menjadi panutan dalam membina akhlakul karimah. Beliau adalah pemimpin arifin, ahli makrifat yang menjadi teladan bagi setiap pencari kebenaran.
Dalam catatan kuliah tersebut, kiai yang akrab disapa dengan Gus Fayyadl tersebut membahas pentingnya mengetahui tiga istilah: amal, ahwal, dan maqomat. Jadi, sebelum membahas ahwal dan maqomat, beliau memberikan pengantar tentang amal.
Karena dari amal inilah akan muncul ahwal, lalu dari ahwal yang diistiqomahkan akan muncul maqomat. Amal, baik yang tampak (dzohir) maupun yang tidak tampak (batin), menjadi modal awal untuk memulai proses penyucian diri.
Salah satu amal yang memilik dampak pada keadaan (ahwal) kita adalah berteman atau dengan orang shalih. Duduk bersama orang yang memiliki keimanan tinggi dapat memberikan dampak positif yang besar dalam proses penyucian diri. Seperti thuma’ninatul qolbi (ketenangan hati) dan tawadhu’ (kesederhanaan) menjadi hal yang muncul secara spontan dalam perjalanan spiritual.
Mengenai maqomat, Kiai Muhammad Al- Fayyadl menekankan bahwa kesungguhan dalam amal dzohir dan batin adalah kunci meraih maqomat. Sholat tidak hanya sekedar gerakan, melainkan sebuah kesempatan untuk ingat pada Allah. Dengan istiqomah dalam ibadah dan memperbaiki hati, seseorang dapat mencapai maqomat yang mulia di sisi Allah SWT.
Begitu banyak yang dapat dipetik dari catatan kuliah tasawuf ke-5 ini. Semoga, dengan kesungguhan dan ketekunan, setiap langkah dalam perjalanan tasawuf dapat membawa kita lebih dekat kepada kesempurnaan lahir dan batin, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kuliah Tasawuf ini diakhiri dengan Do’a bersama agar kita semua menjadi orang yang lebih baik.
Reporter : Alfin Haidar Ali











