Jember, kuasarakyat.com – Kaum Adam atau pria yang sudah menikah, cenderung lebih besar mengalami penyakit tidak menular (PTM) seperti Hipertensi maupun gangguan kesehatan mental dibanding kaum hawa.
Namun meski demikian, kaum pria cenderung malas melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama memeriksakan PTM tersebut ke layanan kesehatan terdekat seperti Posyandu, karena mindset yang terbentuk di masyarakat, Posyandu hanya untuk pemeriksaan kesehatan Balita dan Ibu Hamil.
“Kesadaran kaum bapak untuk datang ke Posyandu, memang sangat rendah, mereka lebih mementingkan urusan tanggung jawabnya sebagai pencari nafkah keluarga dibandingkan sekedar memeriksakan kesehatannya, sehingga cenderung mengalami hipertensi dan stress,” ujar Lutfi Kepala Dusun Paseban Desa Rowotamtu Kecamatan Rambipuji saat mengikuti MMD (Musyawarah Masyarakat Desa) bersama Bidan dan Mahasiswa Profesi Ners Unmuh Jember pada Jumat (27/2/2026).
Lutfi berharap, peran tenaga medis dan kader Posyandu bisa memberikan sosialisasi dan juga pemahaman kepada kaum bapak, agar juga ikut menjaga atau memeriksakan kesehatannya dengan datang ke Posyandu.
“Sosialisasi bisa dilakukan saat ada pengajian maupun waktu ada kegiatan bersama seperti kerja bakti atau baksos lainnya,” harap Lutfi.
Muhammad Hafid selaku Ketua Kelompok Profesi Ners A16 Desa Rowotamtu Universitas Negeri Jember, dalam kesempatan tersebut menyatakan, bahwa laki-laki yang sudah menikah, cenderung mengalami resiko hipertensi, karena banyak faktor dan sebab.
Tidak hanya karena beban atau tuntutan sebagai kepala keluarga, tapi juga faktor lain, selain bawaan lahir, pola makan maupun kebiasaan sehari hari seperti merokok, juga bisa menjadi pemicunya.
“Hipertensi maupun gangguan kesehatan mental yang sering dialami oleh kaum pria, penyakit ini merupakan kategori PTM alias Penyakit Tidak Menular, oleh karenanya, kehadiran kami bersama teman-teman dari Profesi Ners Unmuh di Desa Rowotamtu dalam tugas pengabdian dari kampus, untuk membantu memberikan edukasi dan pemahaman pentingnya memeriksa kesehatan kepada masyarakat,” ujar Hafid.
Hafid menambahkan, dirinya bersama kelompok kerja Profesi Ners A16, sudah beberapa hari berada di Desa Rowotamtu untuk melakukan penyuluhan dan edukasi terkait pencegahan sejak dini dalam mengatasi dan mencegah PTM, dengan terlibat dalam setiap kegiatan Posyandu.
“Selama kami menjalankan kegiatan di sini (Desa Rowotamtu) dan terlibat di Posyandu, kesadaran kaum laki-laki untuk memeriksakan kesehatannya di Posyandu sangat rendah, padahal memeriksakan kesehatan itu penting,” ujar Hafid.
Padahal menurut Hafid, waktu yang dibutuhkan untuk memeriksakan kesehatan di Posyandu, tidak membutuhkan waktu lama, dan bisa dilakukan disela-sela aktifitas bekerja.
“Hanya butuh waktu sekitar 5-8 menit untuk memeriksa kadar gula, hyoertensi dan juga penyakit lainnya, namun mereka masih enggan untuk memeriksakan kesehatannya, dan ini tantangan bagi kami untuk terus memberikan edukasi dan pemahaman ke masyarakat,” ujarnya.
Sementara Bidan Desa Rowotamtu Lutfi yang juga hadir di MMD membenarkan apa yang terjadi ditengah masyarakat, jika kaum laki-laki untuk mau datang ke Posyandu sekedar memeriksakan kesehatannya sangat rendah.
“Laki-laki atau bapak, resiko mengalami hipertensi atau gangguan kesehatan mental lebih tinggi dibanding perempuan, namun mereka enggan untuk datang ke Posyandu walau sekedar memeriksakan kesehatan,” ujarnya.
Pihaknya bersyukur dengan adanya kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh Mahasiswa Profesi Ners dari Unmuh, sehingga sangat membantu dalam mensosialisasikan program program kesehatan kepada masyarakat.
“Kami bersyukur ada adik-adik dari Unmuh, kehadirannya sangat membantu kami dalam mensosialisasikan program-program kesehatan, mudah mudahan segala ikhtiar bisa tercapai dengan baik dan lancar,” pungkasnya.(Ma)











