Netword for Indonesian Democratic Society (Netfid) Bondowoso mendorong KPUD Bondowoso untuk memberikan informasi yang transparan kepada publik. Terutama terkait dengan transparansi jumlah formasi yang dinyatakan lolos test tulis.
“Kuncinya adalah transparansi. Berikan informasi yang cukup sejak awal untuk meminimalkan kesalahpahaman” kata ketua Netfid Bondowoso Fathor Rosy. Netfid meminta KPUD untuk belajar dari keriuhan yang muncul paska penetapan formasi lolos test tulis ppk bberapa waktu lalu.
Seperti diketahui, KPUD Bondowoso menetapkan hanya 10 peserta yang lolos test tulis PPK. Padahal, banyak peserta yang menganggap peserta lolos test tulis sebanyak 3 kali formasi.
” Menurut PKPU Nomor 476 2022, panitia seleksi menetapkan paling banyak 3 kali formasi yang dibutuhkan, jadi maksimal 15 peserta” ujarnya. Memang dimungkinkan KPUD menetapkan dibawah standard maksimal. Namun, imbuh ketua Netfid, informasinya harus jelas sejak awal.
Oleh karena itu, untuk mencegah kekecewaan muncul karena kesalahpahaman, maka sebaiknya ada informasi yang jelas apakah akan mengambil standard maksimal atau tidak.
“Ini kan soal transparansi. Maka silahkan terbuka sejak awal” kata pria yang akrab disapa banteng ini.
Untuk itulah, Netfid Bondowoso mendorong dua hal perlu dilakukan oleh KPUD menjelang rekrutmen PPS.
Pertama, berikan informasi yang jelas mengenai aspek-aspek teknis dari proses tersebut. Misalnya soal penggunaan CAT, penentuan formasi lolos test tulis dan sebagainy.
Kedua, netfid berharap KPUD menetapkan jumlah formasi lolos test tulis sesuai standard maksimal. Hal ini penting untuk memberikan peluang mencari alternatif tenaga adhoc dengan kualifikasi yang diharapkan
Ketiga, KPUD harus menjadi katalisator membangun kapasitas pemilih yang terdidik dan rasional.
” Biarkan publik ikut menilai dan memberikan masukan secara rsional terhadap kebijakan-kebijakan yang ditetapkan” pungkasnya
Menjelang Rekrutmen PPS, Netfid Bondowoso Dorong KPUD Perjelas Soal Formasi Test Tulis PPS











