Jember, kuasarakyat.com – Upaya Polres Jember dalam memburu pelaku pemicu kerusuhan yang terjadi di Padukuhan Dampikrejo dan Padukuhan Patungrejo Dusun Baban Timur Desa Mulyorejo Silo Jember terus dilakukan tanpa mengenal lelah, terbaru 1 pelaku lagi berhasil dibekuk Tim Kalong Satreskrim Polres Jember dari tempat persembunyiannya di Sangata Kutai Timur Kaltim.
Pelaku yang diketahui bernama Gigik Sunarto (34) warga asal Desa Mulyorejo merupakan komplotan dari kelompok Salam Cs yang melakukan penganiayaan terhadap petani kopi asal Desa Banyuanyar Kecamatan Kalibaru Banyuwangi, yang bersangkutan kabur ke Kalimantan setelah aksi kerusuhan pertama terjadi pada Awal Juli lalu.
Kasatreskrim Polres Jember AKP. Dika Hadiyan Wiratama saat dikonfirmasi wartawan pada Jumat (9/9/2022) membenarkan jika tim nya berhasil mengamankan kembali 1 pelaku pemicu kerusuhan di Silo yang kabur ke Kalimantan Timur.
“Benar ada penangkapan terhadap GS (Gigik Sunarto) dari tempat persembunyiannya di Sangata Kutai Timur Kaltim pada Senin kemarin, yang bersangkutan terlibat pengeroyokan terhadap petani kopi yang akhirnya menjadi pemicu kerusuhan di Silo,” ujar Kasatreskrim.
Menurut Kasatreskrim, pelaku terlibat pengeroyokan terhadap Carlitos Gomes (59) petani kopi asal Desa Banyuanyar Kecamatan Kalibaru bersama dengan geng premannya yang lebih dulu sudah diamankan, akibat dari aksi pengeroyokan ini, korban menderita luka pelipis, kepala, dan kedua lengannya.
Baca Juga:
Terungkap! Preman Penyebab Kerusuhan di Silo Jember Minta Jatah hingga Rp 7 Juta ke Petani Kopi
“Tersangka GS di duga melakukan kasus penganiayaan secara bersama-sama sebagaimana di maksud dalam Pasal 170 KUH Pidana,” tegasnya.
Sebelumnya, polisi sudah menangkap empat preman teman tersangka Gigik Sunarto yang juga kabur dari luar pulau Jawa. Yakni: Salam, Yono, Aziz, Zainal, dan Ali.
Disamping itu, polisi terlebih dahulu menangkap 9 aktor utama aksi kerusuhan massal yang merusak rumah warga dan membakar kendaraan bermotor di Desa Mulyorejo. Mereka berasal dari Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi dan seorang lagi asal Kecamatan Sokabana, Kabupaten Sampang.
Tanggal 18 Agustus lalu, Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo menjelaskan bahwa premanisme memang menjadi penyulut kerusuhan antara petani kopi Banyuwangi dan Jember.
“Kerusuhan yang terjadi merupakan aksi balas dendam dari dua kelompok,” kata Hery dalam keterangan resminya.
Selama beberapa tahun aksi premanisme berupa permintaan uang secara paksa masih sebatas menimbulkan perselisihan terbatas. Mulai meningkat eskalasi konflik ketika jalan setapak di kawasan kebun kopi dipasang portal oleh kelompok preman pada Juni 2022.
“Pemasangan portal untuk memungut uang keamanan dari petani kopi. Sehingga, oleh sebagian petani kopi portal tersebut dirusak. Lalu, kelompok preman tidak terima dan terjadilah penganiayaan terhadap petani kopi,” ujar Hery.
Baca Juga:
Tabir Kerusuhan Silo Mulai Terungkap, Ini Peran Pelaku Yang Baru Diamankan dari Sumatera
Korban penganiayaan adalah dua petani kopi asal Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi bernama Junaidi dan Carlito Gomes. Kelompok preman juga pernah menganiaya petani kopi bernama Suhar.
“Hal ini diduga telah memicu rentetan aksi balas dendam dan pembakaran yang dilakukan oleh kelompok massa asal Kalibaru,” sambung Hery.
Polisi sama-sama menerapkan tindakan hukum bagi kedua kelompok. Preman-preman yang berbuat pemalakan ditangkapi. Begitu juga dengan petani kopi yang membalas serangan preman memakai cara pembakaran rumah dan kendaraan juga diciduk.
Upaya demikian berhasil meredam konflik. Terlebih setelah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Bupati Jember Hendy Siswanto, dan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandi Azwar Anas turut menggelar rekonsiliasi. (Ma)











