Pesantren kini berada di era yang serba kompetitif di berbagai aspek kehidupan. Sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara, tentunya pesantren tidak hanya tinggal diam dan berpangku tangan di tengah situasi dan kondisi yang berubah demikian pesat.
Pesantren terus berbenah diri melakukan perbaikan di setiap lini dan unit yang ada di dalamnya. Lembaga ini senantiasa berupaya memberikan layanan terbaik dan memotivasi masyarakat untuk mengenal dunia pesantren. Di antara upaya yang dilakukan adalah dengan mengadakan kegiatan “sambang santri” dan gerakan “literasi santri”.
Sambang Santri
Kegiatan “sambang santri” biasanya dilakukan secara rutin dan terjadwal. Bisa satu bulan sekali atau dua kali. Dua minggu pertama santri putri dan dua minggu setelahnya giliran santri putra atau sebaliknya. Kegiatan ini merupakan media pertemuan (meeting media) antara para santri dan wali santrinya untuk silaturahim dan tukar pikiran seputar dunia pesantren.
Bagi santri lama mungkin sudah terbiasa, tapi bagi santri baru kegiatan tersebut memiliki beragam makna. Bagi santri baru, dunia pesantren merupakan sesuatu yang baru (something new). Pesantren adalah dunia baru (new world) bagi mereka.
Ketika memasuki sebuah dunia yang baru, maka dibutuhkan adaptasi dan akulturasi yang intens di dalamnya. Secara antropologis, dunia pesantren menggambarkan potret keindonesiaan kita yang plural, majemuk dan bahkan multikultural. Para santri yang “ngangsu kaweruh”, menuntut ilmu (talab al-‘ilm) di pesantren berasal dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Mereka hidup bersama dalam satu naungan pondok pesantren yang mengajarkan nilai-nilai keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan.
Bisa dibayangkan jika para santri baru tersebut bertemu dalam sebuah kesempatan emas (golden chance) membincang seputar dunia pesantren. Tentunya, sebuah kekayaan perspektif akan ditemukan dalam momen berharga tersebut. Perjumpaan perspektif (encountering perspective) akan memberikan nuansa baru terhadap pola pikir mereka tentang dunia pesantren dan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya.
Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia menggambarkan elemen-elemen yang merupakan bagian dari pesantren yakni pondok, masjid, pengajaran kitab-kitab klasik, santri, dan kiai. Kelima elemen tersebut mutlak harus ada jika sebuah lembaga ingin dikatakan sebagai sebuah pesantren.
Di dunia pesantren, para santri baru akan beradaptasi dan berakulturasi dengan kelima elemen tersebut dalam kesehariannya. Mereka akan mencandra kelima elemen tersebut sesuai dengan daya dan kapasitas intelektual mereka masing-masing. Kelima elemen tersebut bisa dikatakan mewakili potret pesantren dari sisi fisik dan materinya.
Sementara itu dari sisi imaterinya para santri akan segera akrab dengan istilah-istilah dan konsep-konsep abstrak seperti zikir, wirid, lalaran, taftisy, tahfidz, barakah dan lain-lain. Nilai-nilai spiritualitas inilah yang ditekankan dan tak kalah pentingnya di dunia santri dan pesantren sebagai bekal mereka kelak menghadapi ketatnya persaingan global yang terkooptasi dengan serba materi saat ini.
Di era persaingan global ini para santri seyogyanya mampu memanfaatkan melimpahnya beragam media sosial yang ada di sekitarnya. Mereka hendaknya mampu menjadi duta-duta santri yang mumpuni dalam mengenalkan dunia pesantren ke masyarakat.
Meski akses informasi sedikit terbatasi di pesantren, hal ini tetap tidak menyurutkan langkah mereka untuk mengenalkannya ke masyarakat melalui pelbagai cara. Salah satu di antaranya adalah melalui geliat dan aktif dalam dunia literasi.
Kembali ke “sambang santri”. Dalam pertemuan ini, penulis sendiri sebagai salah seorang wali santri di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi tak kenal lelah mendorong para santri—dan anak-anak penulis sendiri tentunya—untuk selalu aktif di dunia literasi. Penulis menyemangati mereka dengan ujaran dari budayawan kondang Pramoedya Ananta Toer (1925-2006). Pak Pram—demikian panggilan populernya—yang merupakan teman akrab Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu pernah menyatakan “menulislah sedari SD, apa pun yang ditulis sedari SD pasti jadi”.
Tak ada yang tahu dan bisa meneropong masa depan mereka masing-masing. Siapa tahu mereka bisa meneruskan pendidikan pada tahap yang tinggi atau bahkan hingga ke luar negeri. Sekadar meneruskan kabar dari mereka yang pernah dan tengah kuliah di luar negeri, mereka menyatakan “para ilmuwan di Barat tidak hanya melihat dari kepiawaian kita dalam kata-kata, tapi juga kemahiran dalam literasi”.
Hal ini senada dengan pesan Pak Pram “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Pesan tersebut seakan-akan menanamkan bahwa menulis adalah denyut nadi kaum santri. Mengapa demikian?
Lihatlah para Kiai-kiai besar kita. Ada K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), K.H. A. Mustofa Bisri (Gus Mus), K.H. Sahal Mahfudh, K.H. Said Aqil Siradj, K. H. Masdar Farid Mas’udi, K.H. Ahmad Baso dan lain-lain. Mereka adalah para penggerak literasi di dunia pesantren. Mereka adalah “guru besar” kaum santri dalam berliterasi.
Pada kisaran tahun 2005 Gus Dur pernah menulis di The Wall Street Journals, sebuah jurnal kelas wahid di Amerika Serikat dengan judul Right Islam and Wrong Islam. Tulisan tersebut beberapa saat kemudian juga dimuat di ratusan website penting di negeri Paman Sam itu. Inti tulisan itu adalah untuk menjelaskan bahwa aksi radikalisme dan tindakan terorisme bukanlah bagian dari Islam. Gus Dur dikenal sebagai cendekiawan muslim yang berwawasan global, luas cakrawala dan cara pandangnya dan kosmopolit pergaulannya. Namun di balik itu semua, Gus Dur juga merupakan seorang santri dari sebuah pesantren di Jombang Jawa Timur.
Think Globally Act Locally
Dikutip dari Wikipedia kaidah Think globally, act locally” or “Think global, act local” telah menjadi kaidah universal. “Berpikir global, bertindak lokal” telah digunakan dalam berbagai konteks, termasuk perencanaan, lingkungan, pendidikan, matematika, bisnis, dan gereja.
Para santri seyogyanya sadar betul, mereka adalah agen-agen perubahan di masyarakat (agents of change) di kampung, desa, dan habitatnya masing-masing. Meski berasal dari berbagai pelosok desa dan daerah yang berbeda-beda nun jauh di sana, keinginan kuat untuk mondok merupakan gambaran dari besarnya magnitudo dan daya tarik dunia pesantren bagi mereka.
Pesantren saat ini terus mengalami perubahan yang signifikan di berbagai lini dan aspeknya. Pesantren terus berbenah untuk menjawab problematika zaman kekinian. Literasi santri merupakan salah satunya untuk mengenalkan dunia pesantren ke masyarakat dunia.
Sebagai ilustrasi, seorang alumni santri yang berasal dari Sorbonne, Oxford, atau Harvard University misalnya ketika hadir di acara sambang santri. Bisa dipastikan akan terjadi bincang ilmiah yang luar biasa. Santri yang alumni luar negeri akan cerita tentang situasi dan kondisi di benua lain yang berbeda dengan keadaan di pesantren. Wawasan global dan luas akan mewarnai dalam dialog dan obrolan ringan tersebut. Ia bisa berbagi cerita tentang para filsuf Eropa mulai dari Hegel, Marx, hingga Kant dari mazhab idealis Jerman. Atau Jean Paul Sartre yang eksistensialis dari Perancis, selain Foucault, Derrida, Boudrilard dan lain-lain yang mengusung wacana dan gerakan postmodernisme.
Sementara itu santri dari lulusan Timur Tengah pun tak mau ketinggalan. Mereka juga akan cerita tentang kehebatan dan kemasyhuran para ulama Islam dari klasik hingga modern. Sebut saja misalnya Al-Syafi’i (Sahib al-Risalah), Al-Ghazali (Sahib al-Ihya’), Ibnu Atthaillah Al-Sakandari (Sahib al-Hikam), Yusuf Qardhawi, Said Ramadhan Al-Buthi, Wahbah Zuhaili dan sebagainya. Di tambah para pemikir Islam kritis misalnya, Hassan Hanafi dengan bukunya Dari Teologi ke Revolusi (Min al-Aqidah ila Tsaurah) dan Kiri Islam (al-Yasar al-Islam), Mohammed Abid al-Jabiri dengan Trilogi karyanya Formasi Nalar Arab (Takwin al-Aql al-Arabi), Struktur Nalar Arab (Bunyah al-‘Aql ‘Arabi) dan Nalar Politik Arab (al-‘Aql al-‘Arabi al-Siyasi) dan masih banyak pemikir muslim Timur Tengah lainnya.
Finally, wawasan global santri luar negeri akan mengalami pertemuan epistemologis (encountering epistemology) dengan pengetahuan lokal santri dalam negeri di pesantren tersebut. Bersatunya ragam cakrawala (fusion of horizons) seperti dipopulerkan Hans George Gadamer, filsuf Jerman, akan terbentuk dalam pertemuan yang penuh makna itu.
Dengan literasi para santri diajak untuk berpikir secara global dengan tidak lupa akan eksistensinya yang berasal dari dunia pesantren. Obrolan dan bincang ringan dalam kegiatan “sambang santri” dapat menjadi salah satu media persuasif dalam upaya mengenalkan pesantren ke masyarakat luas.
Moh Nur Fauzi, Dosen Pengantar Studi Islam Prodi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAI Darussalam Blokagung Banyuwangi











