Pak AR, “Aku Buku” dan Spirit Literasi Kaum Santri

Comment1,520 views
  • Share

Di era digital literasi menempati posisi yang signifikan bagi pengembangan peradaban dunia Islam. Perkembangan literasi di Indonesia sendiri tidak dapat dilepaskan dari peran penting lembaga pesantren yang sangat kaya dengan literatur dan referensi keilmuan. Tradisi literasi di kalangan kaum santri dan dunia pesantren turut memberi kontribusi terhadap perkembangan pemikiran Islam di Nusantara.

Seperti dilansir REPUBLIKA.co.id bahwa penyebaran Islam di Indonesia memunculkan satu kelompok sosial yang disebut kaum santri. “Para santri adalah anak-anak rakyat, amat paham tentang arti kata rakyat, paham benar tentang kebudayaan rakyat, tentang keseniannya, agamanya, jalan pikirannya, cara hidupnya, semangat dan cita-citanya, suka dukanya, tentang nasibnya, dan segala lika-liku hidup rakyat,” tutur KH Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-Orang dari Pesantren. Eksistensi kelompok ini memiliki dinamika yang memengaruhi sejarah panjang bangsa Indonesia.

MC Ricklefs mendefinisikan kaum santri, “yaitu kaum Muslim yang saleh dan mempraktikkan ajaran agama Islam secara sadar dan sukarela.” Secara mendasar, kelompok ini terbagi menjadi kaum tradisionalis yang direpresentasikan oleh Nahdlatul Ulama dan kaum modernis yang direpresentasikan Muhammadiyah.

Menurut Abdul Munir Mulkhan dalam Runtuhnya Mitos Politik Santri, kata “santri” mempunyai dua makna. Pertama, merujuk pada sekelompok orang di lembaga pendidikan pesantren. Kedua, merujuk pada kelompok pemeluk Muslim yang taat, baik dari pesantren maupun bukan. Mengacu pada definisi pertama, tulisan ini berupaya mengurai secara biografis tentang peran santri dalam dunia literasi.

Inspirasi tulisan ini berangkat dari obrolan ringan dan bincang santai saya dengan Pak AR, salah seorang dosen Institut Agama Islam (IAI) Darussalam Blokagung Banyuwangi. Secara rileks, dalam percakapan ringan dan penuh nuansa keilmuan itu ada sesuatu hal yang penting dan patut diapresiasi serta dikembangkan oleh dunia pesantren.

Dalam amatan saya Pak AR merupakan sosok dosen yang gigih, teguh, dan pekerja keras dalam mempersuasi dan “memprovokasi” para santri dan mahasiswa yang ada di pesantren untuk akrab dan menekuni dunia literasi. Hal ini saya buktikan sendiri ketika pada bincang-bincang santai itu dia memaparkan hasil investigasinya terhadap para santri yang gemar dan rajin membaca buku-buku yang ada di perpustakaan Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi.

Dalam investigasi dan wawancaranya terhadap beberapa santri, Pak AR menemukan fenomena menarik tentang ragam dan varian minat baca para santri. Di samping menelaah dan membaca ragam kitab kuning  (yellow books) tentunya, beberapa santri juga gemar dan rajin membaca secara tuntas satu buku dalam sehari. Bahkan beberapa santri ini ada yang mengkhatamkan hingga tiga buku dalam sehari. Dalam analisisnya, jika seorang santri mampu membaca hingga tuntas tiga buku dalam sehari, maka bisa dihitung berapa buku yang dibaca dalam jangka waktu satu bulan. Ini merupakan sesuatu yang mengagumkan (something amazing) dan patut diapresiasi. Minat baca di kalangan santri ternyata sangat besar sekali.

Mencermati fenomena menarik tersebut muncul inisiatif dari Pak AR untuk membuat data base tentang kegiatan dan aktivitas para santri yang memiliki semangat (ghirah) dalam minat baca buku tersebut. Tidak berhenti di situ, Pak AR pun juga menggagas apresiasi terhadap para santri yang memiliki semangat tinggi dalam minat baca ini. Sebagai contoh dan wujud konkritnya adalah rencana (planning) diberikannya sertifikat bagi para santri yang dalam jangka waktu satu bulan bisa mengkhatamkan hingga 50 buku atau bahkan lebih.

Dari obrolan santai tersebut tergelitik dalam benak saya sebuah pertanyaan. Apakah tingginya minat baca beberapa santri tersebut berbanding lurus dengan menjamurnya literasi dari para santri dalam beberapa bulan terakhir? Dengan tegas, Pak AR pun mengiyakan pertanyaan saya tersebut.

Dalam hitungan detik, saya menjadi tertarik dan “terhanyut” lebih dalam tentang uraiannya yang detail dan bersemangat itu. Dalam ranah praktiknya di kelas-kelas yang diajarnya, Pak AR mempraktikkan bagaimana seharusnya santri dan mahasiswa menekuni dunia literasi. Dia menuturkan kepada saya, bahwa dalam kelasnya dia mengharuskan atau mewajibkan para mahasiswa untuk membawa masing-masing satu artikel opini yang dimuat di media massa, baik cetak maupun online. Sebelum memulai dengan mata kuliah, kebiasaan Pak AR adalah menyuruh para mahasiswa untuk membaca artikel atau opini tersebut selama sepuluh atau lima belas menit. Menurut saya hal ini dilakukan oleh Pak AR dalam upaya internalisasi dunia literasi dalam mindset para santri dan mahasiswa.

Mindset para santri dan mahasiswa memang seyogyanya diisi dengan semboyan “Aku Buku”. Semboyan ini saya adaptasi dari Leonard Read (1898-1983), pendiri Foundation for Economic Education United State of America (AS) tahun 1946. Semboyan ini  memang multitafsir. Bisa diartikan sebagai semangat yang berkobar-kobar dan tinggi dalam membaca buku. Atau dapat juga dimaknai dengan kecintaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan (science). Tafsir yang lebih abstrak adalah sebagai bentuk nyata dalam aksi terhadap perintah Alquran untuk membaca (iqra’) terhadap ayat-ayat tekstual (qauliyah) atau realitas sosial kemanusiaan (kauniyah) Tuhan di alam semesta.

Tradisi literasi di pesantren sebenarnya telah dirintis oleh beberapa intelektual Islam dari kalangan pesantren, misalnya K.H. Abdurrahman Wahid, K.H. Ahmad Mustofa Bisri, K.H. Sahal Mahfudh, K.H. Agus Ali Masyhuri, K.H. Said Aqil Siradj, K.H. Masdar Farid Mas’udi, K.H. Afifuddin Muhajir dan banyak lagi lainnya. Dalam pandangan saya sendiri, mereka adalah para penggerak literasi di pesantren.

Jika dicermati dan diteliti secara mendalam para Kiai tersebut mengawali kiprahnya dalam dunia literasi dengan mengamati dan “menulis” tentang realitas sosial yang terjadi di sekitar mereka. Mereka mendialogkan antara ide dan gagasan dengan kenyataan dan persoalan sosial kemanusiaan yang terjadi di masyarakat.

Manifestasi dari ide-ide dan gagasan tersebut mereka tuangkan dalam bentuk artikel dan opini di berbagai media massa. Misalnya tulisan-tulisan dari                             K.H. Abdurrahman Wahid dan K.H. Masdar Farid Mas’udi yang sering dimuat di Harian Kompas Jakarta. Atau tulisan-tulisan reflektif dan nasihat dari K.H. Agus Ali Masyhuri yang dimuat di Harian Jawa Pos Surabaya. Mereka adalah “Guru Besar literasi” para santri dalam menulis artikel atau opini di berbagai media massa.

Sepertinya berangkat dari fakta dan fenomena inilah Pak AR “membakar” semangat para santri untuk menggeluti dan mentradisikan literasi di pesantren. Karena tradisi literasi ini telah diwariskan oleh para ulama-ulama kita di zaman dahulu hingga sekarang. Tradisi ini begitu mengakar kuat di benak para santri dan mahasiswa sesuai dengan kaidah yang dipegangnya yakni merawat tradisi terdahulu yang baik dari para pendahulu dan inovatif terhadap hal-hal baru di era kekinian       (al-muhafazah ‘ala al-qadim al-salih wa al-akhzu bi al-jadid al-aslah).

Pada 20 September 2021 Pak Asngadi Rofiq (AR) menulis di Radar Banyuwangi dengan judul yang bernuansa provokatif-positif bagi para santri, “Tokoh Utamanya, Itu Kamu!. Dalam amatan saya, sejak tulisan itu dimuat semangat (ghirah) para santri—terutama mahasiswa IAI Darussalam—dalam dunia literasi mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini bisa dibuktikan dengan dimuatnya tulisan para santri dan mahasiswa yang dibimbingnya di berbagai media di Indonesia.

Harus diakui dengan jujur, daya ledak dari “epicentrum” literasi yang digagas Pak AR begitu terasa menggema di kalangan santri dan mahasiswa di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi. Jika bisa dianalogikakan peran Pak AR, mirip dengan Nicholas Cage dalam “The Ghost Rider” yang membakar spirit santri dan mahasiswa untuk terhanyut dan tenggelam dalam dunia literasi. Magnitudo getarannya begitu membahana hingga membuat para santri dan mahasiswa terlecut untuk menulis di berbagai media di Indonesia.

Walhasil, refleksi bernuansa biografis ini kiranya bisa menjadi bahan renungan dan bacaan ringan di sela-sela padatnya aktivitas dan kesibukan kita. Saya kira, aksi bijak Pak AR tersebut dapat menginspirasi kita dan dunia pesantren lain. Dengan “tangan dingin” (cold hand)-nya Pak AR—demikian panggilan guyon saya ke beliau—telah membuktikan konsep dan teorinya dalam ranah aksi menggiatkan dan menggerakkan literasi di kalangan santri. Sekian.

 

MOH NUR FAUZI
Dosen mata kuliah Pengantar Studi Islam
Prodi Manajemen Pendidikan Islam
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
General Manajer (GM) Jurnal Darussalam
IAI Darussalam Blokagung Banyuwangi

 

 

Writer: Moh Nur Fauzi
Comment1,520 views
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.