Satu Abad NU: Salam Perdamaian dari Banyuwangi Untuk Dunia

Comment1,754 views
  • Share

Banyuwangi punya gawe. Kira-kira kalimat pendek dan singkat ini dapat menggambarkan even besar yang digelar pada 9 Januari 2023. Even akbar “Satu Abad NU” ini menjadikan Banyuwangi, Sunrise of Java sebagai Tuan Rumah Festival Tradisi Islam Nusantara. Dipilihnya Banyuwangi menjadi tempat perayaan akbar tersebut tentu menyimpan banyak makna dibenak masyarakat Indonesia. Setiap masyarakat berhak menafsirnya.

Nahdlatul Ulama (NU) dikenal sebagai salah satu ormas terbesar di Indonesia yang peduli akan tradisi. NU mengapresiasi tradisi dan budaya lokal masyarakat sebagai media dan sarana dakwah Islam. Tali jagad yang melingkari bumi menggambarkan bentuk kepedulian NU terhadap eksistensi dan keterjagaan alam semesta ini. Kepedulian itu dibuktikan dengan konsistensinya merawat tradisi dan budaya lokal masyarakat setempat.

Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Nusantara, peran dan kontribusinya dalam merawat jagad dan tradisi tak perlu dipertanyakan lagi. Kontribusi ini terlihat dari berbagai peran sejarah yang dimainkannya, baik pada era sebelum maupun setelah kemerdekaan. Hal ini dapat dicermati dari pola dakwah yang digunakannya dalam menyikapi realitas sosial kemasyarakatan yang terjadi.

Pada era sebelum kemerdekaan misalnya, para ulama NU dihadapkan pada cara-cara beragama yang bercorak ekstrem di Arab Saudi. Tradisi menghormati makam-makam mulia melalui ziarah kubur ke makam Nabi Muhammad Saw, para sahabat, dan para auliya’ dicap sebagai bid’ah dan syirik yang harus dilenyapkan. Hal ini membangkitkan para ulama NU untuk bergerak membendung dan melawan pola-pola dakwah seperti itu. Akhirnya, pada 31 Januari 1926 Komite Hijaz NU pun dibentuk untuk tujuan tersebut. Berdasar mandat dari Hadlaratus KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai ketua Komite Hijaz  memprotes pola-pola dakwah yang bersifat ekstrem dan tidak menghargai tradisi.

Dan kini, di era 4.0 dan society 5.0 pola-pola dakwah yang bersifat ekstrem pun masih digunakan oleh segelintir orang dan kelompok untuk menegasikan yang lain (liyan). Yang lain (the others) dianggap sebagai ancaman dan karenanya harus dilenyapkan. Dunia menjadi semakin pengap, sesak dan sempit karena dipetak-petak antara hitam-putih, benar-salah, halal-haram, dan sesat menyesatkan. Individu, masyarakat dan peradaban diformat dalam oposisi biner yang saling berhadap-hadapan dan siap saling serang satu sama lain. Benturan peradaban (clash of civilizations) seperti ramalan Samuel P. Huntington dalam The Clash Of Civilization an The Remaking of the Wordl Order seakan-akan menghampar di depan mata umat manusia dan peradaban kita.  Benturan peradaban (clash of civilizations) adalah teori bahwa identitas budaya dan agama seseorang akan menjadi sumber konflik utama di dunia pasca-Perang Dingin (cold war).

Prediksi tetap berjalan sebagai prediksi di tengah perjalanan panjang peradaban umat manusia. Tidak harus terbukti dan terjadi. Masih banyak di kolong langit ini manusia-manusia yang peduli akan keterjagaan dan keberadaan dunia damai (wordl peace) dan peradaban yang memanusiakan manusia.

Di Indonesia misalnya terdapat pemikir kontroversial dan nyleneh yang peduli dan menyadar akan situasi dan kondisi dunia global yang plural dan bahkan multikultural. Dunia ini dihuni oleh beragam umat manusia yang berbeda-beda. Keragaman tidak harus menjadi biang perpecahan, tapi sebaliknya, menjadi aset bersama dalam membangun bangsa dan negara yang berperadaban.

Indonesia memiliki seorang Abdurrahman Wahid atau yang dikenal dengan Gus Dur. Pemikirannya yang anti mainstream membuktikan kegagalan teori Huntington tersebut yang “gagal operasi” dan tidak terjadi di Indonesia. Keragaman yang ada di negara ini menurut Gus Dur (2006) dan ternyata terbukti, mampu dikelola oleh segenap elemen bangsa yang peduli akan kemajemukan dan persatuan.

Indonesia juga—dan tak kalah pentingnya—memiliki organisasi sosial keagamaan yang bernama Nahdlatul Ulama (NU) yang setia dan teguh merawat jagad dan tradisi keindonesiaan kita dan dunia.

Dalam pandangan NU, merawat jagad harus dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita. Dan “tradisi” menjadi kata kuncinya. Tradisi umat manusia tentunya sangat beragam dan berbeda-beda di dunia ini. Tradisi umat manusia bergerak dan berjalan di dalam lintasan sejarah kemanusiaan, bukan di luarnya.

Di tengah pergerakan dunia yang makin sempit dengan batas-batasnya yang semakin tidak jelas ini, dibutuhkan kearifan dalam mengelola dan merawatnya. Dibutuhkan “manusia-manusia” yang dapat “memanusiakan manusia” untuk merawat peradaban digital saat ini.

Proyek besar peradaban itu telah dimulai NU pada Muktamar NU ke-33 di Jombang Jawa Timur yang mengusung gagasan “Islam Nusantara”. Gagasan yang pada awalnya memantik pro dan kontra ini terus melaju di tengah kondisi peradaban global yang timpang, menyimpang, oleng dan telah menabrak nilai-nilai kemanusiaan universal ini.

Kondisi pertikaian di Timur Tengah yang meluluhlantakkan Suriah menjadi bukti tak terbantahkan bahwa peradaban dunia kini sedang terluka. Perang Rusia vs Ukraina yang tak jelas kapan berakhirnya membuat peradaban umat manusia kian sakit dan terseok-seok di hadapan tinta sejarah kemanusiaan.

Kondisi dunia global yang carut marut itu membuat NU terpanggil untuk ikut urun rembug memperbaiki dan merawatnya. Dan kini, di tahun 2023, NU melalui ide dan gagasan bernas Ketua Umumnya KH Yahya Cholil Staquf mencetuskan perlunya mendialogkan kembali tentang “Fikih Peradaban”.

Sebagai ormas yang dinilai getol dan adaptif terhadap budaya dan kearifan lokal (local wisdom), NU mengenalkan kembali perlunya merawat peradaban dengan nilai-nilai kemanusiaan universal. Prinsip-prinsip moderasi NU dalam menjawab problematika kekinian menjadi salah satu kunci (keywords) dalam membangun kembali peradaban dunia yang terluka.

Prinsip-prinsip kemanusiaan yang diunggah NU di ruang publik kita seperti moderasi (tawassuth), toleran (tasamuh), proporsional-berimbang (tawazun) dan berkeadilan (i’tidal) sangat relevan untuk merawat jagad dan peradaban dunia kita.

Pluralitas dan kemajemukan Indonesia yang hingga kini berhasil dirawat dan dijaga harus diekspor ke belahan dunia global. Indonesia memiliki Pancasila dan semangat nasionalisme yang tinggi dalam mengelola dan merawat kebhinnekaan.

Kemajemukan dan keragaman itulah yang juga terdapat di Banyuwangi. Keharmonisan Banyuwangi sebagai miniatur moderasi beragama Indonesia Timur mungkin juga yang menjadi salah satu alasan dipilihnya sebagai lokasi pelaksanaan even akbar Satu Abad NU ini.

Menyambut momentum bersejarah Satu Abad NU itu berbagai kegiatan akan dihelat PBNU pada Januari ini. Di antaranya Festival Tradisi Islam Nusantara (FTIN) 2023 di Banyuwangi, pada Senin-Selasa, 9-10 Januari. Lalu, 14-21 Januari akan digelar Pekan Olah Raga dan Seni (Porseni) NU di Solo.

Menurut Abdullah Azwar Anas, penanggung jawab FTIN 2023, festival ini akan menampilkan pagelaran kolosal budaya Islami Nusantara dari berbagai lokus kebudayaan dan rasa. Di antaranya lalaran nadham kitab Alfiyah kolosal, kreasi hadrah nusantara hingga Konser Sholawat bersama Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf.

Melalui FTIN 2023 inilah kontribusi NU dalam merawat jagad dan tradisi untuk membangun peradaban dunia menemukan nilai signikan dan urgensinya. Kehadiran NU semoga senantiasa membawa keberkahan bagi bangsa ini ke depannya. Dari Banyuwangi, salam perdamaian itu disampaikan kepada dunia. Satu Abad NU, berkah untuk semua.

Moh Nur Fauzi,
Dosen Pengantar Studi Islam Prodi Manajemen Pendidikan Islam
Fakutas Tarbiyah dan Keguruan IAI Darussalam Blokagung Banyuwangi
dan Pegiat Literasi Darussalam

 

 

Writer: Moh Nur Fauzi, S.H.I., M.H.
Comment1,754 views
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.