Situbondo, Kuasarakyat.com – DI, warga Desa Landangan, Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo, nekat melakukan aksi penjambretan di salah satu tempat makan di Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo, Rabu(22/12/21). Dia mengambil paksa tas milik Akhmad Efendi, warga Desa Silomukti, Kecamatan Mlandingan saat korban selesai malam salah satu rumah makan.
Menurut salah satu saksi yang tidak ingin di sebut namanya mengatakan penjambretan bermula saat korban akan kembali melanjutkan perjalanan setelah makan. Korban bersama keluarga menuju parkir mobil yang tidak jauh dari tempat dirinya makan.
“Korban keluar dari tempat makan ini, dari belakang terduga membuntutinya. Saat itu korban sedang menggendong anaknya yang masih kecil, posisinya mau masuk kedalam mobilnya. Seketika terduga ini menarik tas dari belakang,” ucanya, Rabu(22/12/21).
Kapolsek Panji, Iptu Suwono mengatakan sempat terjadi aksi tarik menarik antara pelaku dengan korban. Kemudian, korban berhasil melawannya.
“Korban berhasil melakukan perlawanan, walaupun si korban terluka akibat jatuh ke badan jalan,” ucapnya.
Aksi penjambretan itu diketahui oleh warga sekitar hingga korban berhasil diamankan. Suwono mengaku, pelaku yang sempat melarikan diri, kemudian dikejar oleh tukang parkir dan warga sekitar.
Kepala Desa Kandangan, Arif mengatakan, dirinya mengaku terkejut setelah salah satu warganya menjadi terduka pelaku penjambretan.
“Saya kaget setelah mendapat kabar kalau warga saya ada yang ketangkap diduga melakukan aksi penjambretan. Kagetnya saya lagi, terduga ini orangnya pendiam, tidak aneh-aneh. Mangkanya saat awal mula di kabari saya tidak langsung percaya,” Jelasnya.
Arif mengaku, menurut informasi yang didapatkan, pelaku diduga mengalami depresi lantaran dua kali mendaftarkan diri menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) guru.
”Pelaku seorang guru honorer di salah satu sekolah di Situbondo. Selama dua kali mengikuti tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), tidak berhasil. Diduga karena gagal terus, pelaku depresi. Selain itu diduga penyebabnya karena faktor ekonomi keluarga,” jelasnya. (Iw/bs)











